PT Harta Djaya Karya Tbk. (MEJA) secara resmi mengumumkan rencana strategis untuk merambah sektor pertambangan melalui akuisisi 45% saham PT Trimitra Coal Perkasa (TCP). Langkah ekspansi besar ini dijadwalkan akan terealisasi pada kuartal III/2026, bertepatan dengan dimulainya fase produksi komersial dari tambang tersebut.
Direktur Utama MEJA, Richie Adrian Hartanto, menjelaskan bahwa keputusan masuk ke bisnis batu bara ini merupakan bagian dari upaya diversifikasi demi meningkatkan profitabilitas perusahaan di masa depan. Melalui skema ini, MEJA nantinya akan mengoperasikan dua lini bisnis utama, yakni jasa desain interior yang sudah berjalan dan sektor pertambangan melalui TCP.
Proses akuisisi saham tersebut rencananya akan dilakukan menggunakan mekanisme pertukaran saham atau share swap yang ditargetkan rampung pada pertengahan tahun 2026. Momentum ini diambil saat TCP mulai beroperasi secara penuh untuk memastikan kontribusi positif terhadap pendapatan konsolidasi perusahaan.
Potensi Konsesi dan Rencana Produksi
PT Trimitra Coal Perkasa sendiri memegang hak konsesi lahan tambang yang sangat luas, yakni mencapai kurang lebih 11.640 hektare di wilayah Sumatra Selatan. Luasnya lahan tersebut menjadikan TCP sebagai salah satu pemain potensial dengan aset skala besar di sektor komoditas energi nasional.
Berdasarkan laporan teknis dari konsultan independen asal Afrika Selatan, Faan Grobelaar & Associates, cadangan sumber daya di lokasi tersebut diperkirakan menyentuh angka 693,7 juta ton. Untuk mengelola operasional di lapangan, pihak TCP telah menunjuk PT Mitra Abadi Mahakam sebagai kontraktor tambang resmi yang akan menangani proses eksploitasi.
Manajemen memproyeksikan kapasitas produksi tahunan dapat mencapai angka 1,5 juta ton dengan karakteristik produk berupa batu bara berkalori sekitar 2.800 Kcal/kg. Meskipun termasuk kategori kalori rendah, jenis produk ini memiliki permintaan yang sangat tinggi dari pasar global, khususnya negara pengimpor besar seperti India dan China.
Kepastian serapan hasil tambang juga telah terjamin menyusul adanya kesepakatan dengan standby buyer, yaitu Argo Energy Pte. Ltd. yang terafiliasi dengan Banpu Group. Kontrak pembelian tersebut akan berlaku selama satu tahun untuk memastikan kelancaran arus kas perusahaan dari sektor baru ini.
Rencana Rights Issue dan Nilai Investasi
Estimasi nilai investasi yang dibutuhkan untuk mencaplok 45% kepemilikan saham di PT Trimitra Coal Perkasa diprediksi mencapai Rp1,6 triliun. Guna memenuhi kebutuhan dana tersebut, emiten berkode saham MEJA ini akan menempuh aksi korporasi berupa penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD).
| Komponen Rencana | Detail Informasi |
|---|---|
| Target Akuisisi Saham | 45% saham PT Trimitra Coal Perkasa (TCP) |
| Estimasi Nilai Akuisisi | Rp1,6 Triliun |
| Mekanisme Pendanaan | Rights Issue (HMETD) / Share Swap |
| Kisaran Harga Rights Issue | Rp450 - Rp550 per lembar saham |
| Total Luas Konsesi | 11.640 Hektare |
| Total Sumber Daya | 693,7 Juta Ton |
Pelaksanaan rights issue tersebut dirancang akan dilakukan pada rentang harga pelaksanaan antara Rp450 hingga Rp550 untuk setiap lembar saham baru. Harga ini telah mempertimbangkan berbagai faktor valuasi internal dan potensi pertumbuhan aset tambang yang akan segera diakuisisi oleh perseroan.
Kendala RUPSLB dan Tahapan Selanjutnya
Meskipun rencana sudah matang, agenda persetujuan aksi korporasi ini sempat terkendala saat pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 24 April 2026. Pertemuan tersebut belum mencapai kuorum kehadiran yang dipersyaratkan karena hanya dihadiri oleh 52,74% pemegang saham dari batas minimal yang ditetapkan.
Habibah Jannah selaku Corporate Secretary MEJA menyatakan bahwa manajemen tetap optimistis dan sedang mempersiapkan penyelenggaraan RUPSLB ketiga dalam waktu dekat. Perusahaan sangat berharap pada rapat ketiga nanti jumlah pemegang saham yang hadir dapat memenuhi kuorum sehingga agenda penambahan modal bisa disetujui.
Jika persetujuan dari para pemegang saham sudah didapatkan, MEJA akan segera melanjutkan tahapan administratif dan legalitas menuju proses penawaran umum terbatas tersebut. Hal ini krusial agar jadwal akuisisi pada kuartal III/2026 tidak mengalami penundaan dan strategi diversifikasi dapat berjalan sesuai linimasa yang direncanakan.
Langkah MEJA ini menambah deretan perusahaan yang melakukan diversifikasi ke sektor energi fosil di tengah tren komoditas yang dinamis. Dengan dukungan aset cadangan yang masif dan pembeli siaga yang kredibel, perusahaan yakin transisi ini akan memperkuat fundamental ekonomi perseroan secara jangka panjang.