Saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) menunjukkan pergerakan positif pada perdagangan Senin, 27 April 2026. Meskipun Bursa Efek Indonesia (BEI) telah resmi mengeluarkan kedua emiten tersebut dari indeks bergengsi LQ45 dan IDX80, harga saham keduanya tetap melaju di zona hijau.
Hingga pukul 09.10 WIB, saham BREN mencatatkan kenaikan sebesar 2,60% atau bertambah 120 poin ke posisi harga Rp4.740 per lembar saham. Selama sesi perdagangan tersebut, BREN berfluktuasi pada rentang harga Rp4.620 sampai Rp4.840 dengan nilai kapitalisasi pasar yang sangat besar mencapai Rp647,52 triliun.
Walaupun hari ini menguat, tren jangka panjang saham BREN sebenarnya masih berada di bawah tekanan pasar yang cukup signifikan. Dalam kurun waktu satu pekan terakhir, harga saham ini sudah merosot sebanyak 27,88% dan telah ambles hingga 50,82% jika dihitung sejak awal tahun 2026 atau secara year to date.
Kondisi yang serupa juga dialami oleh saham DSSA yang berhasil menguat sebesar 2,48% atau naik 50 poin menuju level harga Rp2.070 per lembar. Emiten ini tercatat memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp396,83 triliun di tengah dinamika pasar modal yang sedang berlangsung saat ini.
Kinerja saham milik Grup Sinarmas ini juga terpantau masih tertekan jika melihat data historis harga dalam periode waktu yang lebih luas. Saham DSSA diketahui telah mengalami penurunan sebesar 37% dalam sepekan terakhir serta melemah hingga 48,76% sepanjang berjalannya tahun kalender 2026.
| Emiten | Harga Terakhir (Rp) | Kenaikan (%) | Kapitalisasi Pasar (Triliun) | Kinerja Sepekan (%) | Kinerja YTD (%) |
|---|---|---|---|---|---|
| BREN | 4.740 | 2,60 | 647,52 | -27,88 | -50,82 |
| DSSA | 2.070 | 2,48 | 396,83 | -37,00 | -48,76 |
Analisis Risiko Forced Selling
Muhammad Wafi selaku Head of Research KISI Sekuritas memberikan pandangannya terkait dampak dikeluarkannya kedua emiten ini dari dua indeks acuan utama sekaligus. Ia memperingatkan adanya risiko aksi jual paksa atau forced selling yang cukup masif dalam jangka pendek akibat keputusan otoritas bursa tersebut.
Fenomena ini terjadi karena pengelola dana pasif seperti reksa dana indeks dan Exchange Traded Fund (ETF) memiliki mandat untuk menyesuaikan portofolio mereka secara otomatis. Para manajer investasi tersebut diwajibkan untuk menjual saham yang keluar dan membeli saham yang masuk sebagai konstituen baru dalam indeks terkait.
"Keluarnya BREN dan DSSA dari dua indeks sekaligus akan memicu forced selling dari reksa dana berbasis indeks dan ETF yang wajib merotasi portofolionya," ujar Wafi saat dihubungi Bisnis pada Minggu, 26 April 2026.
Wafi juga menekankan bahwa tekanan jual yang menghantui BREN maupun DSSA saat ini bukan disebabkan oleh penurunan kinerja perusahaan atau masalah fundamental internal. Kebijakan ini murni merupakan bagian dari implementasi kriteria high shareholding concentration (HSC) yang diterapkan oleh Bursa Efek Indonesia.
Tujuan utama dari penerapan kriteria HSC tersebut adalah untuk meminimalisir risiko konsentrasi kepemilikan saham tertentu yang dianggap terlalu tinggi di pasar modal. Oleh karena itu, pelemahan harga saham yang mungkin terjadi pada awal bulan Mei mendatang diprediksi hanya bersifat teknikal semata.
Tekanan terhadap harga saham diprediksi akan mulai mereda secara bertahap setelah periode penyeimbangan ulang atau rebalancing indeks selesai dilakukan sepenuhnya. Setelah fase transisi portofolio para pengelola dana selesai pada awal Mei 2026, kondisi pasar diharapkan kembali bergerak stabil dan normal kembali.
Prospek Konstituen Baru LQ45
Di sisi lain, beberapa emiten seperti PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) dan PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) diprediksi akan mendapatkan sentimen positif. Selain itu, PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA), PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA), dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) juga resmi masuk indeks LQ45.
Muhammad Wafi menuturkan bahwa emiten CUAN memiliki daya tarik yang sangat kuat bagi investor berkat eksposurnya yang solid pada sektor komoditas. Selain itu, langkah strategis korporasi yang dilakukan Prajogo Pangestu dalam meningkatkan porsi saham publik juga menjadi nilai tambah yang sangat signifikan.
Strategi peningkatan porsi saham beredar di publik atau free float tersebut sengaja dilakukan agar perseroan mampu memenuhi kriteria HSC yang ditetapkan BEI. Upaya ini merupakan langkah proaktif dari manajemen agar emiten tetap kompetitif dan memenuhi standar tata kelola yang diinginkan oleh pihak otoritas bursa.
Emiten HRTA juga dinilai memiliki potensi pertumbuhan yang baik seiring dengan tren harga emas dunia yang tetap bertahan di level tinggi. Sentimen positif dari harga komoditas logam mulia global ini diharapkan mampu memberikan dorongan terhadap kinerja keuangan maupun pergerakan harga saham perusahaan kedepannya.
Sementara itu, PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) menarik perhatian pasar melalui ekspansi bisnisnya di sektor infrastruktur digital yang sangat prospektif. Selain fokus bisnisnya yang relevan dengan perkembangan zaman, statusnya sebagai bagian dari grup Hashim Djojohadikusumo juga menambah nilai tawar bagi para investor.
Secara keseluruhan, pasar modal Indonesia sedang mengalami dinamika perubahan konstituen indeks yang akan berdampak pada aliran dana investasi di masa mendatang. Investor diharapkan tetap cermat dalam memantau setiap perubahan aturan bursa serta dampaknya terhadap pergerakan harga saham di portofolio masing-masing.