Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan pada Senin, 27 April 2026, dengan performa yang cukup impresif setelah sempat tertekan pada periode sebelumnya. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks komposit ini melonjak sebesar 1 persen atau naik 71,13 poin ke posisi 7.200,62 segera setelah pasar dibuka pukul 09.02 WIB.
Kenaikan ini didorong oleh aksi beli pada sejumlah saham berkapitalisasi pasar besar seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) dan PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) yang memimpin barisan penguatan. Pada menit-menit awal perdagangan, IHSG sempat menyentuh level tertinggi di angka 7.204,15, sementara titik terendah berada di level 7.157,86.
Antusiasme investor terlihat dari dominasi jumlah emiten yang bergerak di zona hijau, di mana sebanyak 357 saham tercatat mengalami penguatan nilai. Di sisi lain, tercatat ada 177 saham yang mengalami koreksi harga, sementara 169 saham lainnya tetap bergerak stagnan tanpa ada perubahan posisi yang signifikan.
Total nilai kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia pun turut terkerek naik hingga mencapai angka Rp12.904,69 triliun sejalan dengan menguatnya indeks hari ini. Emiten tambang AMMN menjadi salah satu motor utama penguatan setelah harga sahamnya melonjak 4 persen ke level Rp5.200 per lembar.
Rincian Pergerakan Saham Big Caps
Selain AMMN, kinerja positif juga ditunjukkan oleh PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) yang mencatatkan pertumbuhan nilai saham sebesar 3,96 persen menjadi Rp2.100. Langkah ini diikuti oleh PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) yang meningkat 3,68 persen hingga mencapai level Rp4.790 per saham.
Kenaikan harga saham juga merambah pada sektor properti dan petrokimia, di mana saham PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk. (PANI) tercatat menguat sebesar 2,55 persen. Sementara itu, PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) mengalami pertumbuhan sebesar 2,50 persen dan emiten telekomunikasi pelat merah PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) naik tipis 0,71 persen.
Namun, tidak semua saham berkapitalisasi besar berhasil mencatatkan rapor hijau di tengah reli penguatan indeks komposit pada pembukaan pekan ini. Saham konsumer PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) justru mengalami tekanan cukup dalam dengan koreksi sebesar 2,86 persen ke level Rp1.530 per lembar.
Saham perbankan raksasa PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) juga terlihat mengalami pelemahan tipis sebesar 0,41 persen menuju level Rp6.025 pada awal perdagangan. Berikut adalah ringkasan data pergerakan beberapa emiten utama pada pembukaan perdagangan hari ini:
| Nama Emiten | Kode Saham | Perubahan (%) | Harga Terakhir (Rp) |
|---|---|---|---|
| Amman Mineral Internasional | AMMN | +4,00% | 5.200 |
| Dian Swastatika Sentosa | DSSA | +3,96% | 2.100 |
| Barito Renewables Energy | BREN | +3,68% | 4.790 |
| Pantai Indah Kapuk Dua | PANI | +2,55% | - |
| Chandra Asri Pacific | TPIA | +2,50% | - |
| Telkom Indonesia | TLKM | +0,71% | - |
| Bank Central Asia | BBCA | -0,41% | 6.025 |
| Unilever Indonesia | UNVR | -2,86% | 1.530 |
Proyeksi dan Rekomendasi Pasar
Pihak BNI Sekuritas memproyeksikan bahwa pergerakan IHSG pada hari ini berpeluang besar untuk mengalami kenaikan jangka pendek yang bersifat technical rebound. Analisis ini muncul setelah melihat kondisi pasar yang sempat tertekan cukup dalam selama pekan sebelumnya akibat berbagai sentimen global dan domestik.
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, memaparkan bahwa meskipun ada potensi pemulihan hingga ke level 7.250, pelaku pasar tetap harus waspada terhadap risiko koreksi. Penurunan IHSG sebesar 3,38 persen pada pekan lalu juga dibarengi dengan aksi jual bersih oleh investor asing yang mencapai angka signifikan sebesar Rp3,02 triliun.
“IHSG berpotensi short term technical rebound hari ini ke level 7.250, namun tetap ada potensi lanjut koreksi lagi setelah rebound tersebut,” jelas Fanny Suherman dalam riset hariannya.
Untuk panduan transaksi hari ini, BNI Sekuritas menetapkan rentang level support indeks akan berada di kisaran 7.000 hingga 7.080. Sementara itu, untuk target resistansi yang perlu dicermati oleh para pelaku pasar diproyeksikan berada pada angka 7.200 sampai dengan 7.250.
Seluruh informasi mengenai pergerakan pasar saham ini bersifat referensi semata dan bukan merupakan ajakan langsung bagi masyarakat untuk melakukan transaksi jual maupun beli. Segala keputusan serta risiko yang timbul dari aktivitas investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab pribadi dari setiap investor di pasar modal.