Saham ASII, PTBA, dan BBNI Sokong Penguatan Indeks Bisnis-27 di Akhir Perdagangan

Saham ASII, PTBA, dan BBNI Sokong Penguatan Indeks Bisnis-27 di Akhir Perdagangan
Foto: Ilustrasi Saham ASII, PTBA, dan BBNI Sokong Penguatan Indeks Bisnis-27 di Akhir Perdagangan.

Indeks Bisnis-27 mengakhiri sesi perdagangan pada hari Rabu, 22 April 2026, dengan hasil yang positif di zona hijau. Kenaikan kinerja indeks hasil kolaborasi dengan harian Bisnis Indonesia ini terutama disokong oleh apresiasi harga saham-saham unggulan seperti ASII, PTBA, dan BBNI.

Berdasarkan laporan data dari IDX Mobile, Indeks Bisnis-27 mencatatkan penguatan sebesar 1,68 poin atau setara dengan kenaikan 0,34 persen hingga mencapai posisi 498,26. Sepanjang durasi perdagangan hari itu, pergerakan indeks terpantau cukup fluktuatif namun stabil dalam kisaran level 496,48 hingga menyentuh puncaknya di angka 500,67.

Aktivitas pasar pada konstituen Indeks Bisnis-27 menunjukkan tingkat likuiditas yang cukup tinggi dengan total nilai transaksi yang mencapai angka Rp5,854 triliun. Dari sisi operasional pasar, volume saham yang berpindah tangan tercatat sekitar 3,473 miliar lembar melalui frekuensi perdagangan yang terjadi sebanyak 372,5 ribu kali transaksi.

Kondisi pasar secara internal menunjukkan dinamika yang beragam di mana terdapat 9 saham yang berhasil menguat dan 13 saham yang mengalami tekanan atau terkoreksi. Sementara itu, sisa 5 saham lainnya terpantau bergerak stagnan atau tidak mengalami perubahan harga yang signifikan dibandingkan dengan penutupan sebelumnya.

Laju penguatan indeks ini sangat dipengaruhi oleh performa impresif dari saham-saham yang memiliki kapitalisasi pasar yang besar. Saham PT Astra International Tbk. (ASII) menjadi penggerak utama dengan lonjakan harga sebesar 4,35 persen sehingga kini berada pada level Rp6.600 per lembar saham.

Selain Astra, PT Bukit Asam (Persero) Tbk. (PTBA) juga menunjukkan taji dengan kenaikan harga sebesar 3,09 persen yang membawanya ke posisi Rp3.000. Penguatan berlanjut pada sektor perbankan di mana saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) berhasil terangkat 2,68 persen menuju level harga Rp3.830.

Emiten tambang lainnya seperti PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) turut menyumbang sentimen positif dengan kenaikan sebesar 1,74 persen ke level Rp4.100. Tidak ketinggalan, saham PT United Tractors Tbk. (UNTR) juga ikut mengalami apresiasi sebesar 1,64 persen sehingga ditutup pada harga Rp32.500 per lembar saham.

Daftar Saham Pendorong dan Penekan Indeks

Nama Emiten Kode Saham Perubahan Harga (%) Harga Penutupan (Rp)
Astra International ASII +4,35% 6.600
Bukit Asam PTBA +3,09% 3.000
Bank Negara Indonesia BBNI +2,68% 3.830
Aneka Tambang ANTM +1,74% 4.100
United Tractors UNTR +1,64% 32.500
Trimegah Bangun Persada NCKL -3,43% 1.125
Japfa Comfeed Indonesia JPFA -1,89% 2.600
Indah Kiat Pulp & Paper INKP -1,75% 9.825
Barito Pacific BRPT -1,74% 2.260
Sumber Alfaria Trijaya AMRT -1,68% 1.465

Di sisi lain, terdapat beberapa emiten yang mengalami tekanan jual cukup besar, salah satunya adalah PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) yang merosot 3,43 persen ke level Rp1.125. Pelemahan juga terlihat pada saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) yang turun sebesar 1,89 persen dan berakhir di posisi Rp2.600.

Sektor kertas dan ritel pun tak luput dari koreksi, di mana PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP) harus turun 1,75 persen ke harga Rp9.825. Penurunan serupa dialami oleh PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) sebesar 1,74 persen ke level Rp2.260 serta PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) yang melemah 1,68 persen ke Rp1.465.

Tim riset dari Sinarmas Sekuritas memberikan pandangan bahwa kondisi domestik dipengaruhi oleh kebijakan Bank Indonesia yang memutuskan untuk tetap mempertahankan BI Rate pada level 4,75 persen. Langkah moneter ini diambil sebagai upaya strategis guna memitigasi dampak perlambatan ekonomi global dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap risiko perang di Timur Tengah.

Lebih lanjut, otoritas moneter mengindikasikan bahwa potensi untuk penurunan BI Rate di masa mendatang akan semakin sulit dan membutuhkan waktu yang lebih lama. Faktor utama yang menjadi pertimbangan mendalam bagi kebijakan suku bunga tersebut adalah upaya pengendalian inflasi agar tetap berada dalam koridor yang ditargetkan.

Meskipun demikian, Bank Indonesia masih memiliki proyeksi yang optimis terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yang dinilai tetap solid dan tangguh. Kekuatan ekonomi ini diperkirakan tetap terjaga berkat tingginya tingkat konsumsi masyarakat domestik serta aliran investasi yang terus berlanjut ke dalam negeri.

Dari perspektif eksternal, tensi geopolitik global yang meningkat telah memicu terjadinya arus modal keluar atau outflow dari pasar keuangan Indonesia dengan estimasi mencapai US$17 miliar. Hal ini turut memberikan tekanan tersendiri bagi pasar modal dalam negeri di tengah ketidakpastian situasi keamanan di berbagai wilayah konflik.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia pun mengalami revisi menurun dari semula 3,1 persen menjadi sekitar 3,0 persen akibat perlambatan aktivitas ekonomi global. Selain itu, terdapat kekhawatiran mengenai kenaikan tingkat inflasi global yang diprediksi melonjak ke level 4,2 persen dari estimasi awal yang hanya sebesar 4,1 persen.

Risiko inflasi di tingkat dunia ini sangat dipengaruhi oleh melambungnya harga komoditas energi sebagai dampak langsung dari konflik geopolitik yang belum mereda. Kenaikan biaya energi ini pada akhirnya membayangi prospek pertumbuhan ekonomi secara menyeluruh bagi banyak negara, termasuk Indonesia dalam jangka pendek maupun menengah.

Sebagai catatan bagi para investor, laporan ini disajikan sebagai sarana informasi dan bukan merupakan bentuk ajakan resmi untuk melakukan transaksi beli atau jual saham tertentu. Seluruh risiko serta keuntungan yang timbul dari keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing pembaca selaku pelaku pasar.

Artikel terkait

Rekomendasi