Emiten yang bergerak di sektor perkebunan dan pengolahan kelapa sawit, PT Sumber Tani Agung Resources Tbk. (STAA), berhasil mencatatkan rapor hijau pada kinerja pendapatan mereka untuk periode kuartal I/2026. Pertumbuhan yang signifikan ini terjadi seiring dengan mulai beroperasinya sejumlah fasilitas pendukung baru yang dimiliki oleh perusahaan secara optimal.
Berdasarkan data laporan keuangan periode tiga bulan pertama tahun 2026, STAA berhasil membukukan nilai pendapatan dari kontrak dengan pelanggan sebesar Rp2,48 triliun. Angka tersebut menunjukkan lonjakan sebesar 49,2 persen jika dibandingkan dengan pencapaian pada periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di level Rp1,66 triliun.
Analisis Faktor Pendorong Kinerja Pendapatan
Peningkatan pendapatan yang cukup masif ini dipengaruhi secara signifikan oleh kontribusi penuh dari fasilitas pengolahan atau refinery yang telah beroperasi sejak pertengahan tahun lalu. Kevin Wijaya selaku Head of Investor Relations STAA menjelaskan bahwa fasilitas tersebut kini menjadi salah satu pilar utama dalam mendongkrak omzet perusahaan di awal tahun ini.
Di sisi lain, perusahaan melaporkan laba kotor sebesar Rp737,37 miliar, yang berarti tumbuh 28,5 persen dibandingkan kuartal I/2025 yang tercatat senilai Rp573,72 miliar. Perolehan marjin laba kotor sebesar 29,7 persen ini mencerminkan adanya dinamika pada harga komoditas serta perubahan dalam komposisi bauran produk yang dihasilkan perusahaan.
Rincian Kinerja Keuangan dan Operasional
| Indikator Keuangan/Operasional | Kuartal I/2025 | Kuartal I/2026 | Pertumbuhan (%) |
|---|---|---|---|
| Pendapatan Kontrak Pelanggan | Rp1,66 Triliun | Rp2,48 Triliun | 49,2% (YoY) |
| Laba Kotor | Rp573,72 Miliar | Rp737,37 Miliar | 28,5% (YoY) |
| Laba Bersih Entitas Induk | Rp304,70 Miliar | Rp293,70 Miliar | -3,6% (Penurunan) |
| Produksi TBS (Ton) | 239.892 (Estimasi) | 221.421 | -7,7% (Penurunan) |
| CPO Extraction Rate | - | 22,4% | Peningkatan Efisiensi |
Meskipun pendapatan dan laba kotor mengalami kenaikan, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk justru mengalami koreksi tipis. Laba bersih STAA tercatat sebesar Rp293,70 miliar pada kuartal I/2026, sedikit menurun jika dibandingkan dengan perolehan periode sebelumnya yang mencapai Rp304,70 miliar.
Dari aspek operasional, total produksi Tandan Buah Segar (TBS) perusahaan mencapai angka 221.421 ton, yang berarti mengalami penurunan sebesar 7,7 persen secara tahunan. Kondisi cuaca yang kurang mendukung selama periode berjalan diidentifikasi sebagai penyebab utama melandainya volume produksi TBS milik perseroan tersebut.
Walaupun volume produksi menurun, perusahaan tetap mampu meningkatkan efisiensi operasional melalui perbaikan pada tingkat ekstraksi minyak sawit. Perseroan melaporkan bahwa tingkat ekstraksi CPO (extraction rate) naik menjadi 22,4 persen, yang merupakan hasil dari optimalisasi proses produksi secara berkelanjutan di seluruh lini.
Komitmen Keberlanjutan dan Standar Internasional
Sebagai upaya memperkuat fundamental bisnis di pasar global, STAA secara resmi telah bergabung menjadi anggota Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Langkah ini diambil sebagai bagian dari proses formalisasi standar operasional perusahaan agar selaras dengan praktik terbaik dan standar keberlanjutan internasional.
Saat ini, perseroan tengah aktif menjalankan proses sertifikasi RSPO untuk seluruh unit operasionalnya, dengan dua entitas operasional yang sudah berhasil meraih sertifikasi tersebut. STAA berkomitmen untuk terus melanjutkan proses sertifikasi ini guna meningkatkan kualitas tata kelola operasional mereka secara jangka panjang.
Manajemen berharap inisiatif keberlanjutan ini dapat mendongkrak daya saing produk ekspor perusahaan dan memperkokoh posisi STAA di pasar internasional yang semakin selektif. Kevin Wijaya menegaskan bahwa bagi perusahaan, aspek keberlanjutan bukan sekadar kewajiban melainkan bagian integral yang menyatu dengan operasional bisnis sehari-hari.
Pihak manajemen menambahkan bahwa keanggotaan RSPO merupakan bukti nyata komitmen STAA dalam menjaga standar operasional yang konsisten dengan praktik global yang bertanggung jawab. Strategi ini dijalankan beriringan dengan fokus perusahaan pada program hilirisasi dan penguatan infrastruktur bisnis yang lebih terintegrasi dari hulu ke hilir.
STAA berencana untuk terus meningkatkan kualitas di seluruh lini usaha, mulai dari perbaikan praktik agronomi di perkebunan hingga efisiensi di pabrik pengolahan. Selain itu, aspek pengelolaan lingkungan dan tanggung jawab sosial juga menjadi fokus utama perusahaan dalam membangun fondasi bisnis yang kokoh untuk masa depan.
Dengan arah strategis yang mengintegrasikan aspek pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan, STAA menyatakan optimisme terhadap prospek bisnis mereka di tahun-tahun mendatang. Perusahaan yakin dapat terus memberikan nilai tambah bagi pemegang saham sekaligus berkontribusi positif terhadap industri kelapa sawit baik di tingkat nasional maupun global.