PT Trisula Textile Industries Tbk. (BELL), emiten yang dikenal sebagai produsen sekaligus distributor pakaian dengan merek JOBB dan Jack Nicklaus, secara resmi telah menyetujui rencana pembagian dividen sebesar Rp10 miliar. Keputusan strategis ini disahkan melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang berlangsung di Bandung, di mana para pemegang saham akan menerima jatah dividen senilai Rp1,38 untuk setiap lembar saham yang dimiliki.
Pelaksanaan distribusi keuntungan tersebut telah dijadwalkan secara pasti dan akan mulai dibayarkan kepada para investor pada tanggal 22 Mei 2026 mendatang. Langkah ini diambil oleh manajemen perseroan sebagai bentuk apresiasi nyata atas kepercayaan pemegang saham meskipun kondisi ekonomi global dan domestik masih dibayangi berbagai tantangan.
Karsongno Wongso Djaja selaku Direktur Utama BELL menjelaskan bahwa kebijakan pembagian dividen ini dilandasi oleh pencapaian kinerja keuangan yang sangat positif sepanjang tahun buku 2025. Perusahaan berhasil membukukan laba bersih yang meyakinkan sebesar Rp12,57 miliar, yang jika dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya, angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 9% secara tahunan (year-on-year).
Selain pertumbuhan pada sisi laba, efektivitas strategi bisnis perseroan juga tercermin dari angka penjualan yang menyentuh angka Rp584,75 miliar sepanjang tahun tersebut. Karsongno menegaskan bahwa keputusan untuk tetap membagikan dividen merupakan komitmen penuh perusahaan guna memberikan nilai tambah bagi pemegang saham di tengah dinamika industri tekstil nasional yang cukup berat.
| Indikator Keuangan BELL (Tahun Buku 2025) | Nilai Capaian |
|---|---|
| Total Dividen yang Dibagikan | Rp10 Miliar |
| Dividen per Lembar Saham | Rp1,38 |
| Laba Bersih Perseroan | Rp12,57 Miliar |
| Pertumbuhan Laba Bersih (YoY) | 9% |
| Total Penjualan | Rp584,75 Miliar |
Guna mempertahankan momentum pertumbuhan dalam jangka panjang, BELL terus berupaya melakukan optimalisasi di seluruh lini bisnisnya yang mencakup sektor manufaktur, seragam, distribusi, hingga ritel. Beberapa langkah strategis yang tengah dijalankan meliputi peningkatan efisiensi produksi serta modernisasi mesin-mesin pabrik guna memastikan kualitas produk tetap terjaga dengan standar tertinggi.
Perseroan juga sangat fokus pada pengembangan produk-produk inovatif yang disesuaikan dengan permintaan pasar yang terus berubah, serta memanfaatkan Trisula Innovation Center (TIC) sebagai pusat riset. Keberadaan TIC ini diharapkan dapat memperkuat sinergi dan kolaborasi di internal Trisula Group sehingga tercipta efisiensi operasional yang lebih baik di masa depan.
Dari sisi kompetitif, BELL mengandalkan reputasi produknya yang telah dipercaya oleh berbagai segmen pelanggan mulai dari instansi pemerintah, perusahaan swasta, hingga sektor perbankan nasional. Keunggulan utama perseroan terletak pada fleksibilitas layanan yang memungkinkan pelanggan untuk melakukan pemesanan kain dan seragam secara khusus atau kustom sesuai spesifikasi yang diinginkan.
Pada segmen bisnis ritel, emiten ini terus menunjukkan keaktifannya dalam memperluas jangkauan pasar melalui ekspansi gerai merek JOBB dan Jack Nicklaus di berbagai lokasi belanja strategis. Hingga akhir Desember 2025, kekuatan ritel BELL telah didukung oleh sebaran 135 gerai untuk merek JOBB dan 76 gerai untuk merek Jack Nicklaus di seluruh Indonesia.
| Merek Ritel di Bawah BELL | Jumlah Gerai (Per Desember 2025) |
|---|---|
| JOBB | 135 Toko |
| Jack Nicklaus | 76 Toko |
Melalui implementasi strategi bisnis yang konsisten, manajemen BELL merasa optimis bahwa mereka mampu memperkuat posisi perusahaan sebagai salah satu pemain utama di industri tekstil dalam negeri. Perusahaan memproyeksikan dapat mempertahankan tren positif pertumbuhan pendapatan pada level high single digit, selaras dengan target kinerja yang telah ditetapkan untuk tahun berjalan ini.
Meskipun demikian, informasi mengenai pembagian dividen dan kinerja saham ini bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan atau rekomendasi untuk melakukan transaksi jual beli saham. Segala bentuk keputusan investasi merupakan tanggung jawab penuh masing-masing investor, dan pihak Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas potensi keuntungan maupun risiko kerugian yang timbul di kemudian hari.