Nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar AS pada Jumat, 24 April 2026, dengan peningkatan sebesar 0,33% menjadi Rp17.229 per dolar AS, meskipun sempat mencapai level terendah di Rp17.300. Penguatan ini terjadi di tengah berbagai tekanan sentimen dari pasar global dan domestik.
Meski rupiah menunjukkan penguatan, Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat mata uang dan komoditas, menyebutkan bahwa kondisi ini tetap menghadapi tantangan akibat kombinasi faktor-faktor tersebut. Ia menjelaskan bahwa konflik berkepanjangan antara AS dan Iran telah memicu harga minyak dunia, yang berimplikasi negatif bagi perekonomian Indonesia sebagai negara yang banyak mengimpor minyak.
Dari sisi geopolitik, Iran telah menarik diri dari rencana pembicaraan dengan AS yang diprakarsai oleh Pakistan, dan pada saat yang sama, Presiden AS, Donald Trump, menyatakan tidak ingin terburu-buru dalam mencapai kesepakatan dengan Iran. Meskipun ada gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang disetujui setelah pembicaraan di Washington, hal ini ternyata tidak membawa dampak positif yang signifikan bagi pasar.
Di dalam negeri, keadaan fiskal pemerintah juga menjadi perhatian, terutama dalam menghadapi dampak dari perang di Timur Tengah yang berujung pada lonjakan harga komoditas energi. Ibrahim mencatat bahwa pemerintah menegaskan posisi anggaran negara yang kuat, meskipun harga minyak dunia saat ini telah melebihi asumsi makro APBN 2026, yaitu di atas US$100 per barel.
Pemerintah masih mampu menahan kenaikan harga BBM bersubsidi tanpa mengambil dana dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang mencapai Rp423 triliun. Ibrahim menegaskan bahwa SAL tersebut belum digunakan untuk menghadapi inflasi akibat kenaikan harga energi yang sedang berlangsung.
Dengan kondisi ini, Ibrahim memprediksi bahwa rupiah akan berpotensi melemah dalam perdagangan pekan depan. Ia memperkirakan nilai tukar rupiah akan fluktuatif, dengan kemungkinan ditutup dalam rentang Rp17.220 hingga Rp17.260 pada Senin depan.
Perkiraan untuk sepekan ke depan memperlihatkan rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp17.180 sampai Rp17.400 per dolar AS. Sentimen yang dipadukan ini menunjukkan ketidakpastian di pasar mata uang, menciptakan tantangan bagi kestabilan rupiah.