PT Medikaloka Hermina Tbk. (HEAL) secara resmi telah menyetujui pembagian dividen dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) sebesar Rp207 miliar yang diambil dari perolehan laba bersih tahun buku 2025. Jumlah ini setara dengan Rp13,5 per lembar saham atau mencakup sekitar 48% dari total laba bersih yang berhasil dibukukan oleh emiten pengelola rumah sakit tersebut sepanjang tahun lalu.
Kinerja keuangan emiten berkode saham HEAL ini menunjukkan pertumbuhan pendapatan sebesar 6,20 persen secara tahunan menjadi Rp7,13 triliun dibandingkan perolehan pada tahun 2024 yang tercatat senilai Rp6,72 triliun. Meski demikian, laba bersih perseroan mengalami koreksi sebesar 19,85 persen secara year on year menjadi Rp429,55 miliar dari posisi sebelumnya sebesar Rp535,94 miliar pada periode tahun sebelumnya.
| Indikator Keuangan (2025) | Nilai Realisasi | Pertumbuhan (YoY) |
|---|---|---|
| Pendapatan Total | Rp7,13 Triliun | +6,20% |
| Laba Bersih | Rp429,55 Miliar | -19,85% |
| Total Alokasi Dividen | Rp207 Miliar | 48% dari Laba |
| Dividen per Saham | Rp13,5 | - |
Perubahan Struktur Manajemen Perusahaan
Selain menetapkan pembagian keuntungan, rapat pemegang saham tersebut juga menyetujui langkah strategis berupa perombakan susunan dewan komisaris dan direksi perusahaan. Darwin Cyril Noerhadi secara resmi mengundurkan diri dari kursi Komisaris dan posisinya digantikan oleh Iswan Kosasih, sementara Yustinus Immanuel Herawan kini dipercaya menjabat sebagai Direktur baru perseroan.
Direktur Utama PT Medikaloka Hermina Tbk., Yulisar Khiat, menjelaskan bahwa perubahan struktural ini dilakukan dengan tujuan untuk memperkuat efektivitas organisasi serta meningkatkan ketangkasan perusahaan dalam merespons dinamika industri kesehatan. Yulisar juga menegaskan optimisme perusahaan untuk terus melanjutkan tren pertumbuhan yang sehat sekaligus menjaga kualitas layanan medis bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Target Pertumbuhan dan Strategi Bisnis 2026
Memasuki tahun berjalan, manajemen HEAL telah mematok target ambisius berupa pertumbuhan pendapatan hingga mencapai angka dua digit dibandingkan dengan pencapaian tahun buku 2025 yang lalu. Untuk pos laba bersih atau bottom line, Yulisar menyebutkan pihaknya akan berupaya maksimal agar performa keuangan tetap bertumbuh secara positif dan diupayakan mampu menembus level pertumbuhan dua digit pula.
Guna mendukung pencapaian target tersebut, perseroan telah menyiapkan alokasi belanja modal atau capital expenditure (capex) dengan nilai yang cukup signifikan yakni mencapai lebih dari Rp1,2 triliun. Dana investasi ini akan difokuskan secara selektif pada pengembangan infrastruktur medis serta peningkatan kualitas layanan rumah sakit demi memenuhi kebutuhan pasien di berbagai wilayah operasional mereka.
| Rencana Strategis 2026 | Detail Target dan Alokasi |
|---|---|
| Total Anggaran Belanja Modal (Capex) | Lebih dari Rp1,2 Triliun |
| Alokasi Teknologi Medis | 30% - 40% dari Total Capex |
| Target Rasio Pasien BPJS Kesehatan | 60% |
| Target Rasio Pasien Non-BPJS | 40% |
Dalam implementasi penggunaan dana belanja modal, sebanyak 30 persen hingga 40 persen dari anggaran tersebut akan dialokasikan khusus untuk pemutakhiran berbagai teknologi dan peralatan medis terkini. Strategi ini diharapkan mampu meningkatkan severity level atau kemampuan penanganan penyakit yang lebih kompleks, sehingga dapat menarik minat serta keterlibatan dokter-dokter spesialis maupun non-spesialis secara lebih efektif.
Yulisar menambahkan bahwa pada tahun ini perusahaan akan lebih selektif dan memberikan perhatian utama pada segmen pasien non-BPJS Kesehatan dalam rangka meningkatkan nilai tambah layanan. Meski demikian, dari sisi proporsi sebaran pasien secara keseluruhan, manajemen tetap memproyeksikan strategi komposisi sebesar 40 persen untuk pasien non-BPJS dan sisanya sebanyak 60 persen tetap diperuntukkan bagi pasien peserta program BPJS.