Kurs Rupiah terhadap Dolar AS pada Jumat 24 April 2026

Kurs Rupiah terhadap Dolar AS pada Jumat 24 April 2026
Foto: Ilustrasi Kurs Rupiah terhadap Dolar AS pada Jumat 24 April 2026.

Nilai tukar rupiah diprediksi akan mengalami pergerakan yang fluktuatif namun cenderung berakhir melemah pada perdagangan hari Jumat, 24 April 2026. Berdasarkan pantauan pasar, mata uang Garuda diperkirakan akan bergerak pada rentang sensitif antara Rp17.280 hingga Rp17.340 per dolar AS sepanjang hari ini.

Kondisi ini menyusul penutupan perdagangan pada Kamis, 23 April 2026, yang memperlihatkan pelemahan rupiah sebesar 0,61 persen atau terdepresiasi sebanyak 105 poin ke level Rp17.286 per dolar AS. Di waktu yang bersamaan, indeks dolar AS justru menunjukkan penurunan tipis sebesar 0,06 persen menuju posisi 98,65 poin.

Analisis Pengamat Terhadap Lonjakan Kurs

Ibrahim Assuaibi, yang merupakan pengamat mata uang dan komoditas, menyatakan bahwa kemerosotan nilai tukar rupiah saat ini terjadi lebih dalam jika dibandingkan dengan proyeksi awal tim analis. Bahkan, mata uang nasional sempat menyentuh angka psikologis Rp17.300 per dolar AS dalam sesi perdagangan intraday yang berlangsung sebelumnya.

Ia menambahkan bahwa terdapat kemungkinan besar nilai tukar rupiah akan menembus angka Rp17.400 per dolar AS pada akhir April 2026 atau setidaknya pada pekan depan. Menurut Ibrahim, level Rp17.400 tersebut sebenarnya merupakan target ekspektasi untuk akhir tahun 2026, namun secara mengejutkan sudah tercapai pada bulan April ini.

Tekanan berat terhadap rupiah ini sangat dipengaruhi oleh eskalasi ketegangan geopolitik global, terutama kegagalan upaya diplomasi damai antara Amerika Serikat dan Iran. Pertemuan yang mulanya akan dimediasi oleh Pakistan tersebut batal terlaksana karena pihak Iran memutuskan untuk tidak hadir dalam agenda penting tersebut.

Keputusan Iran didasarkan pada anggapan bahwa Amerika Serikat telah mengkhianati kesepakatan gencatan senjata setelah melakukan penangkapan kapal tanker milik Iran di wilayah Selat Hormuz. Selain itu, tuntutan dari Donald Trump agar Iran menghentikan pengayaan uranium dan membebaskan tarif jalur Selat Hormuz dinilai sangat tidak menguntungkan pihak Iran.

Ibrahim Assuaibi menegaskan bahwa saat ini Iran telah menyatakan kesiapan untuk menghadapi perang dalam jangka waktu panjang karena sudah kehilangan kepercayaan sepenuhnya terhadap Amerika Serikat. Situasi eksternal yang memanas ini menjadi beban berat bagi nilai tukar rupiah yang terus mencari titik keseimbangan baru di pasar valuta asing.

Dampak Sektor Energi dan Tekanan Fiskal

Selain faktor politik internasional, kondisi fiskal domestik Indonesia juga berada dalam posisi yang sulit untuk membendung laju pelemahan mata uang rupiah. Konflik global telah memicu lonjakan harga minyak dunia, di mana jenis Brent bertahan pada posisi US$103 per barel dan minyak jenis WTI berada di angka US$98 per barel.

Lonjakan harga komoditas energi ini menjadi tantangan serius karena dalam asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, harga minyak dunia dipatok hanya pada level US$70 per barel. Padahal, batas atas kenaikan harga minyak yang masih bisa ditoleransi oleh struktur anggaran pemerintah hanya berada di angka US$92 per barel.

Situasi ini memaksa Pemerintah Indonesia untuk mengeluarkan biaya yang jauh lebih besar guna mencukupi kebutuhan energi nasional mengingat status negara sebagai importir minyak neto. Risiko pelebaran defisit anggaran kini membayangi pemerintah akibat selisih harga minyak global yang sudah jauh melampaui target yang ditetapkan sebelumnya.

Sebagai informasi tambahan, dalam dokumen APBN 2026, pemerintah awalnya menetapkan asumsi rata-rata nilai tukar rupiah berada pada level Rp16.500 per dolar AS. Namun, realitas pasar saat ini menunjukkan deviasi yang cukup lebar dari proyeksi makro tersebut, sehingga diperlukan pemantauan ketat terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Data Perbandingan Asumsi APBN vs Realitas Pasar 2026

Indikator Ekonomi Asumsi APBN 2026 Kondisi Riil (April 2026)
Nilai Tukar Rupiah (per Dolar AS) Rp16.500 Rp17.280 - Rp17.340
Harga Minyak Mentah Brent (per Barel) US$70 (Target) US$103
Batas Toleransi Harga Minyak (per Barel) US$92 Melampaui Batas
Indeks Dolar AS - 98,65

Melihat perkembangan yang ada, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa pemerintah akan terus memantau situasi ini secara intensif. Bank Indonesia juga dilaporkan mulai meningkatkan intensitas intervensi di pasar guna memastikan volatilitas rupiah tetap terjaga di tengah gempuran ketidakpastian global yang masih berlangsung.

Stabilitas nilai tukar kini menjadi prioritas utama otoritas moneter untuk mencegah dampak sistemik terhadap pertumbuhan ekonomi dan inflasi di dalam negeri. Koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter diharapkan mampu meredam tekanan eksternal yang diprediksi masih akan berlanjut hingga akhir bulan ini.

Artikel terkait

Rekomendasi