Indeks Bisnis-27 Turun 0,52% ke 494,45 di Pembukaan Perdagangan, Terbebani Saham BBRI dan TLKM

Indeks Bisnis-27 Turun 0,52% ke 494,45 di Pembukaan Perdagangan, Terbebani Saham BBRI dan TLKM
Foto: Ilustrasi Indeks Bisnis-27 Turun 0,52% ke 494,45 di Pembukaan Perdagangan, Terbebani Saham BBRI dan TLKM.

Indeks Bisnis-27 mengalami penurunan sebesar 0,52% pada perdagangan hari ini, mencapai level 494,45 di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik serta sentimen global yang kurang menguntungkan. Penurunan indeks ini didorong oleh melemahnya saham-saham besar, seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), sementara beberapa saham lain seperti PT United Tractors Tbk. (UNTR) mencatatkan penguatan.

Data dari IDX Mobile menunjukkan bahwa hingga pukul 09.10, terdapat 11 saham mengalami kenaikan, 11 saham turun, dan 5 saham stagnan. Saham BBRI, misalnya, terdegradasi sebesar 4,65% ke Rp3.280, diikuti oleh saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) yang memperlihatkan penurunan 1,57% ke Rp1.875, serta saham TLKM dengan penurunan 1,29% ke Rp3.060.

Sementara itu, saham yang berhasil membalikkan penurunan adalah UNTR yang naik 1,34% ke Rp32.025, dan saham PT Astra International Tbk. (ASRI) yang turut mencatatkan kenaikan 1,18% menjadi Rp6.425. Dikatakan bahwa suasana pasar saat ini terpengaruh oleh kekhawatiran atas ketegangan di Timur Tengah, terutama setelah penyitaan kapal berbendera Iran oleh AS.

Peneliti di Phintraco Sekuritas berpendapat bahwa ketegangan ini dapat memengaruhi proses perdamaian antara kedua negara. Meskipun Presiden AS Donald Trump menekankan bahwa negosiator AS masih terus berusaha melanjutkan diskusi di Pakistan, Iran dilaporkan enggan untuk ikut serta dalam perundingan selanjutnya.

Di sisi domestik, perhatian juga tertuju pada stabilitas sektor keuangan dengan adanya peningkatan rasio kredit bermasalah (NPL) pada kredit properti. Rasio tersebut tercatat naik menjadi 3,24% pada Februari 2026, dibandingkan dengan 2,99% di tahun lalu, meskipun pertumbuhan kredit properti tetap solid dengan angka 13,7% secara tahunan.

Peningkatan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi salah satu risiko yang perlu diperhatikan oleh pelaku pasar. Meskipun demikian, banyak yang mengharapkan Bank Indonesia akan tetap mempertahankan suku bunga pada rapat kebijakan mendatang untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung.

Disclaimer: Berita ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk melakukan transaksi saham. Semua keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca, dan Bisnis.com tidak dapat dipertanggungjawabkan atas segala kerugian atau keuntungan dari keputusan yang diambil pembaca.

Disclaimer:
Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber: market.bisnis.com tanpa mengubah fakta pada artikel asli.

Artikel terkait

Rekomendasi