Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan pada Jumat (24/4/2026) dengan koreksi tajam sebesar 3,38 persen atau merosot 249,12 poin ke level 7.129. Penurunan drastis ini memperpanjang tren negatif indeks komposit yang terus ditutup melemah di zona merah sepanjang pekan berjalan.
Berdasarkan data dari IDX Mobile, kejatuhan IHSG didominasi oleh pelemahan harga pada 701 saham, sementara hanya 92 saham yang mampu menguat dan 166 saham lainnya bergerak stagnan. Aktivitas pasar mencatat volume transaksi mencapai 44,78 miliar lembar saham dengan total nilai transaksi yang cukup besar yakni Rp24,30 triliun.
Akibat aksi jual masif tersebut, kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia mengalami penyusutan hingga kini berada di angka Rp12.736 triliun. Seluruh saham dalam jajaran 10 emiten berkapitalisasi pasar terbesar atau big caps terpantau kompak mengalami penurunan harga yang cukup signifikan.
Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) tercatat anjlok sebesar 5,84 persen sehingga parkir di level Rp6.050 per lembar saham. Sementara itu, saham milik konglomerat Prajogo Pangestu, PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), juga terkoreksi dalam sebesar 6,29 persen menuju posisi Rp4.620.
Penurunan juga merambah ke sektor industri kimia melalui PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) yang melemah 2,24 persen ke harga Rp6.000 per lembar. Emiten teknologi data center, PT DCI Indonesia Tbk. (DCII), turut mencatatkan penurunan tipis sebesar 0,03 persen dan ditutup pada level Rp199.000.
Sektor perbankan pelat merah tidak luput dari tekanan, di mana saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) turun 2,85 persen ke harga Rp3.070. Langkah serupa diikuti oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang mengalami penyusutan nilai saham sebesar 2,81 persen ke posisi Rp4.500.
Di sektor pertambangan, saham PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) terpangkas 1,23 persen ke level Rp12.000 per lembar saham. Kerugian paling dalam dialami oleh PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) yang terjun bebas hingga 10,22 persen dan berakhir di posisi Rp2.020.
Selanjutnya, emiten tambang emas dan tembaga PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) ditutup melandai 4,31 persen pada level harga Rp5.000. Raksasa telekomunikasi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) juga melandai dengan penurunan sebesar 2,43 persen ke angka Rp2.810 per lembar.
Indeks komposit terlihat gagal melakukan rebound setelah sempat terpuruk sebesar 3,06 persen pada sesi pertama perdagangan hari ini. Analis dari tim riset Phintraco Sekuritas mengungkapkan bahwa secara teknikal, posisi IHSG menunjukkan indikator MACD yang telah membentuk pola death cross.
Kondisi ini diperparah dengan stochastic RSI yang bergerak menurun di area pivot, sehingga pelemahan indeks hari ini sebenarnya sudah sesuai dengan perkiraan para analis. Terkait sentimen pasar, fluktuasi nilai tukar rupiah yang melemah sepanjang pekan menjadi variabel utama yang memicu kepanikan investor.
Pihak sekuritas menyoroti bahwa pada perdagangan Kamis (23/4), rupiah mengalami koreksi terdalam di pasar Asia hingga menyentuh level Rp17.286 per dolar AS. Meskipun pada Jumat (24/4) rupiah sedikit menguat 0,33 persen atau 57 poin ke Rp17.229, namun level ini tetap menjadi perhatian serius bagi pelaku pasar.
Phintraco Sekuritas menyebutkan bahwa laju pelemahan rupiah yang sangat cepat ini berada di luar perkiraan awal para pelaku pasar modal. Faktor penutupan Selat Hormuz yang terus berlanjut membuat harga minyak dunia bertahan di level tinggi, yang kemudian memicu kecemasan akan lonjakan inflasi.
Kekhawatiran tersebut juga meluas pada potensi melebarnya defisit anggaran belanja pemerintah akibat beban subsidi energi yang kemungkinan membengkak. Di sisi lain, Philip Sekuritas Indonesia melaporkan mayoritas bursa saham di kawasan Asia juga dibuka melemah karena sikap hati-hati para investor.
Ketidakpastian geopolitik global masih menjadi faktor penghambat utama, terutama terkait perpanjangan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon selama tiga minggu. Meskipun situasi masih tegang, pernyataan terbaru dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan sedikit harapan bagi stabilitas keamanan di Timur Tengah.
Trump mengindikasikan bahwa perpanjangan gencatan senjata tersebut dapat membuka peluang bagi terciptanya kesepakatan damai jangka panjang di kawasan tersebut. Langkah diplomasi ini diharapkan mampu mengakhiri kebuntuan konflik serta menghilangkan berbagai hambatan besar dalam perseteruan antara Amerika Serikat dan Iran.
Rincian Pergerakan Saham Big Caps IHSG 24 April 2026
| Kode Saham | Nama Emiten | Perubahan (%) | Harga Penutupan |
|---|---|---|---|
| BBCA | Bank Central Asia Tbk. | -5,84% | Rp6.050 |
| BREN | Barito Renewables Energy Tbk. | -6,29% | Rp4.620 |
| DSSA | Dian Swastatika Sentosa Tbk. | -10,22% | Rp2.020 |
| AMMN | Amman Mineral Internasional Tbk. | -4,31% | Rp5.000 |
| BBRI | Bank Rakyat Indonesia Tbk. | -2,85% | Rp3.070 |
| BMRI | Bank Mandiri Tbk. | -2,81% | Rp4.500 |
| TLKM | Telkom Indonesia Tbk. | -2,43% | Rp2.810 |
| TPIA | Chandra Asri Pacific Tbk. | -2,24% | Rp6.000 |
| BYAN | Bayan Resources Tbk. | -1,23% | Rp12.000 |
| DCII | DCI Indonesia Tbk. | -0,03% | Rp199.000 |
Penting untuk diingat bahwa laporan ini bersifat informatif dan tidak dimaksudkan sebagai perintah untuk melakukan transaksi jual atau beli saham tertentu. Seluruh risiko yang timbul dari keputusan investasi yang diambil merupakan tanggung jawab penuh dari masing-masing pembaca atau investor.