IHSG Melemah Bersamaan dengan Depresiasi Rupiah, Saham BBRI hingga BMRI Merosot Berjamaah

IHSG Melemah Bersamaan dengan Depresiasi Rupiah, Saham BBRI hingga BMRI Merosot Berjamaah
Foto: Ilustrasi IHSG Melemah Bersamaan dengan Depresiasi Rupiah, Saham BBRI hingga BMRI Merosot Berjamaah.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan tren negatif pada penutupan perdagangan hari Kamis, 23 April 2026. Pelemahan indeks komposit ini dipicu oleh eskalasi konflik global yang berdampak signifikan terhadap merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Berdasarkan data dari IDX Mobile, IHSG tercatat anjlok sebesar 2,16 persen atau kehilangan 163 poin sehingga berakhir di level 7.378. Kondisi pasar menunjukkan tekanan jual yang masif dengan 531 saham mengalami koreksi, sementara hanya 201 saham yang menguat dan 227 saham lainnya tidak bergerak.

Aktivitas perdagangan sepanjang hari ini melibatkan transaksi sebanyak 52,01 miliar lembar saham dengan total nilai mencapai Rp20,42 triliun. Akibat penurunan tajam ini, total kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia kini tersisa sebesar Rp13.180 triliun.

Kinerja Saham Perbankan dan Emiten Besar

Sektor perbankan yang memiliki bobot besar terhadap pergerakan indeks terpantau mengalami pelemahan kolektif pada perdagangan kali ini. Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) tercatat turun 0,39 persen ke posisi Rp6.425, diikuti oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang merosot 2,47 persen menjadi Rp3.160.

Koreksi juga melanda saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang terpangkas 2,53 persen ke level Rp4.630 per lembar saham. Demikian pula dengan saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) yang harus ditutup melemah 2,01 persen pada harga Rp1.955.

Meskipun mayoritas bank besar memerah, saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) justru berhasil menguat tipis 1,04 persen ke angka Rp3.870. Kenaikan juga dirasakan oleh PT Bank Permata Tbk. (BNLI) sebesar 1,19 persen ke posisi Rp3.390, sementara PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN) melonjak signifikan 11,43 persen ke Rp4.290.

Kode Saham Harga Terakhir (Rp) Perubahan (%)
BBCA 6.425 -0,39%
BBRI 3.160 -2,47%
BMRI 4.630 -2,53%
BRIS 1.955 -2,01%
BBNI 3.870 +1,04%
BNLI 3.390 +1,19%
BDMN 4.290 +11,43%

Faktor Eksternal dan Tekanan Geopolitik

Laju IHSG pada hari ini sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah sempat melemah 1,27 persen pada sesi pertama. Tim riset dari Phintraco Sekuritas menyatakan bahwa jatuhnya indeks merupakan bentuk reaksi pasar terhadap ketegangan geopolitik yang semakin memanas di wilayah Timur Tengah.

Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran di kawasan Selat Hormuz menjadi faktor utama yang menimbulkan kekhawatiran bagi para pelaku pasar modal. Analis menekankan bahwa sentimen negatif dari krisis global tersebut diperparah dengan kondisi nilai tukar rupiah yang terus tertekan.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup pada level Rp17.286, namun sempat menyentuh angka psikologis di atas Rp17.300 sepanjang perdagangan berlangsung. Para ahli memperkirakan tren pelemahan mata uang garuda masih berpotensi berlanjut hingga menyentuh level Rp17.400 pada akhir April ini.

Kebijakan Moneter dan Proyeksi Ekonomi Nasional

Sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia memutuskan untuk tetap mempertahankan BI Rate pada angka 4,75 persen. Keputusan tersebut disertai dengan penetapan Deposit Facility rate sebesar 3,75 persen serta lending facility rate yang tetap di level 5,5 persen.

Analis menyatakan bahwa kebijakan moneter ini diambil sebagai upaya memperkuat pertahanan mata uang domestik di tengah tingginya ketidakpastian pasar global. BI berupaya keras untuk meredam volatilitas yang muncul akibat sentimen geopolitik yang sulit diprediksi arahnya.

Dari sisi indikator makroekonomi, Bank Sentral tetap optimis bahwa tingkat inflasi nasional akan tetap berada pada rentang sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen untuk periode 2026–2027. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia juga masih dipatok pada kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen untuk tahun ini.

Informasi dalam artikel ini merupakan data pasar dan tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk melakukan transaksi jual atau beli aset saham tertentu. Segala bentuk keputusan investasi merupakan tanggung jawab penuh masing-masing investor, termasuk atas risiko kerugian atau potensi keuntungan yang didapatkan.

Artikel terkait

Rekomendasi