Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah mengalami pelemahan yang signifikan pada pekan ini, sebagai dampak dari gejolak yang terjadi di Timur Tengah yang turut berpengaruh pada kondisi fiskal negara. Pemerintah diharapkan segera melakukan evaluasi terhadap kebijakan yang ada untuk menjaga stabilitas perekonomian.
IHSG mengalami penurunan berturut-turut sejak awal pekan, dan pada sesi pertama perdagangan hari ini, Jumat (24/4/2026), tercatat koreksi 3,06% menjadi 7.152. Sementara itu, nilai tukar rupiah menurun 0,01% menjadi Rp17.284, mengalami tekanan akibat beban impor minyak mentah yang meningkat.
Liza Camelia, Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, menyebutkan bahwa penurunan nilai rupiah tidak sepenuhnya disebabkan oleh penguatan dolar AS. Ia juga menyampaikan bahwa tekanan terhadap rupiah lebih mencerminkan faktor-faktor domestik, sehingga perlu adanya evaluasi terhadap kebijakan pemerintah dan bank sentral.
Di sisi lain, lonjakan harga minyak global yang mencapai lebih dari US$100 per barel menambah tantangan bagi fiskal negara. Keadaan ini diperburuk oleh terganggunya jalur distribusi minyak di dunia yang mengancam pasokan bahan bakar di dalam negeri.
Sejalan dengan meningkatnya beban fiskal, pemerintah saat ini melaksanakan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang memakan anggaran negara cukup besar, ditambah lagi dengan keputusan untuk tidak menaikkan harga BBM subsidi. Liza menambahkan bahwa meskipun Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan, hal ini belum menghasilkan dampak signifikan terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.
Ia juga menyoroti kondisi yang kompleks karena adanya tekanan eksternal dan persepsi risiko, yang meliputi isu MSCI dan downgrade sovereign baru-baru ini oleh Fitch Ratings. Hal ini berimplikasi pada daya tarik pasar obligasi negara di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan.
Dalam kondisi yang sulit ini, Liza mengingatkan pemerintah untuk meninjau lagi prioritas dalam belanja negara agar ketahanan fiskal tetap terjaga. Pengelolaan dana melalui entitas seperti Danantara juga menjadi fokus agar alokasi investasi lebih efektif dan berdampak nyata pada perekonomian.
Sementara itu, tim riset dari Phintraco Sekuritas mencatat bahwa pasar saham Indonesia masih tertekan akibat sentimen pelemahan kurs rupiah. Secara teknikal, IHSG pada perdagangan Kamis (23/4) menunjukkan tanda-tanda breakdown di level support 7.500, di mana volume perdagangan juga meningkat.
Indikator positif MACD semakin menyempit dan ada potensi terbentuknya death cross, dengan stochastic RSI yang mengarah turun. Pada perdagangan akhir pekan ini, IHSG diprediksi akan melanjutkan penurunan dan menguji level 7.300.
Sentimen negatif juga dipicu oleh pelemahan rupiah yang sempat mencapai Rp17.300 per dolar AS, di mana penutupan barunya menunjukkan level terendah sepanjang waktu di Rp17.286 per dolar AS. Hal ini menjadi perhatian karena pelemahan ini lebih parah dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia.
Analisis pasar menunjukkan bahwa penurunan nilai tukar rupiah berlangsung lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya. Saat ini, dampak dari konflik di Timur Tengah menyebabkan lonjakan harga minyak mentah, yang berdampak pada inflasi dan defisit anggaran yang semakin melebar.
Penutupan Selat Hormuz juga berkepanjangan sehingga menjaga harga minyak tinggi, dengan Brent mencapai US$103 per barel dan WTI di level US$98 per barel. Situasi ini tentu berisiko dalam mengelola ekonomi negara di tengah kebutuhan yang terus meningkat.
Disclaimer: Berita ini tidak bermaksud untuk mengajak pembaca membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada pada pembaca, dan Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang dialami akibat keputusan tersebut.