Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penutupan yang signifikan dengan penurunan sebesar 3,38% pada akhir pekan, tepatnya pada Jumat, 24 April 2026. Penurunan ini disebabkan oleh gabungan faktor sentimen global dan aksi ambil untung dari investor.
Menurut data RTI Infokom, pada pukul 16.00 WIB, IHSG tercatat berada di level 7.129,49, mengalami penurunan 3,38%. Dalam sehari perdagangan, IHSG bergerak pada rentang 7.111 hingga 7.383 dengan 83 saham menguat, 670 saham melemah, dan 62 saham stagnan.
Nilai kapitalisasi pasar juga tercatat sebesar Rp12.761 triliun, di mana saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menjadi yang paling aktif diperdagangkan dengan total transaksi mencapai Rp2,7 triliun. Saham BBCA ditutup turun sebesar 5,84% ke harga Rp6.050, sementara saham BUMI mengalami penurunan sebesar 6,09% menjadi Rp216 per saham.
Saham PT Prajogo Pangestu (PRTO) juga mengalami lonjakan penurunan sebesar 9,31%, ditutup pada harga Rp5.600 per saham. Selain itu, saham-saham lain yang melemah meliputi BBRI yang turun 2,85% ke Rp3.070, TLKM yang merosot 2,43% ke Rp2.810, dan DEWA yang berkurang 5,63% ke Rp486.
Penyebab dan Analisis IHSG
Alrich Paskalis dari Phintraco Sekuritas menjelaskan bahwa pelemahan IHSG saat ini masih dipengaruhi oleh kombinasi sentimen negatif global dan aksi ambil untung setelah kenaikan sebelumnya. Ia menambahkan bahwa penurunan 3% masih dapat dianggap sebagai koreksi normal dan bukan tanda panic selling yang ekstrem.
Namun, Alrich mengingatkan bahwa perlunya kewaspadaan terhadap adanya sentimen negatif global atau regional yang dapat menambah volatilitas pasar. Meskipun penurunan mendekati 8% dalam sehari sulit dicapai tanpa adanya kejadian besar yang mengguncang pasar.
Dari sudut pandang teknikal, saat ini IHSG sedang berada pada fase konsolidasi dengan kecenderungan untuk melemah menuju support area di kisaran 7.000 hingga 7.100. Jika IHSG berhasil bertahan di atas level 7.000, maka masih dapat dikatakan bahwa kondisinya sehat dengan fase konsolidasi yang baik.
Namun jika indeks menembus di bawah 7.000, maka potensi tekanan terhadap pasar bisa berlanjut dan akan menjadi indikasi adanya kelemahan yang lebih dalam. Hal ini perlu diperhatikan oleh investor di tengah dinamika pasar yang terus berubah.
Disclaimer: Berita ini tidak bermaksud untuk mendorong pembaca melakukan pembelian atau penjualan saham. Semua keputusan investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab masing-masing pembaca.
Silakan cek berita dan artikel lainnya di Google News dan WA Channel.