Harga pembelian kembali atau buyback emas Antam tercatat telah mengalami kenaikan sebesar 11,01 persen sepanjang periode berjalan pada tahun 2026. Meskipun menunjukkan tren positif secara akumulatif sejak awal tahun, data terbaru dari Logam Mulia pada Senin (27/4/2026) menunjukkan harga buyback emas Antam justru mengalami penurunan sebesar Rp16.000 menjadi Rp2.620.000 per gram.
Posisi harga saat ini masih berada jauh di bawah rekor tertinggi sepanjang masa atau all time high yang pernah menyentuh angka Rp2.989.000 pada akhir Januari 2026. Sebagai informasi, harga buyback merupakan standar acuan bagi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) saat membeli kembali emas dari masyarakat dengan satuan dasar satu gram.
Aktivitas buyback sendiri merupakan proses transaksi di mana pemilik emas menjual kembali asetnya, baik itu berupa logam mulia, emas batangan, maupun perhiasan kepada pihak distributor. Walaupun biasanya harga beli kembali ini dipatok lebih rendah daripada harga jual yang berlaku saat itu, investor masih tetap bisa meraup keuntungan jika selisih harga beli awal dan harga jual kembalinya cukup lebar.
Ketentuan Pajak dan Pergerakan Harga
Berdasarkan regulasi dalam PMK Nomor 34/PMK.10/2017, transaksi penjualan kembali emas batangan kepada Antam dengan nilai di atas Rp10 juta akan dikenakan potongan pajak penghasilan. Pemilik NPWP dikenakan PPh 22 sebesar 1,5 persen, sementara bagi mereka yang tidak memiliki NPWP akan dikenakan tarif lebih tinggi yakni sebesar 3 persen yang dipotong langsung dari nilai total.
| Kategori Data Emas | Nilai / Persentase |
|---|---|
| Harga Buyback per 27 April 2026 | Rp2.620.000 per gram |
| Kenaikan Year-to-Date (YTD) 2026 | 11,01% |
| Rekor Tertinggi (Januari 2026) | Rp2.989.000 per gram |
| Penurunan Harian | Rp16.000 |
| PPh 22 (dengan NPWP) | 1,5% |
| PPh 22 (tanpa NPWP) | 3% |
Analis dari Dupoin Futures, Geraldo Kofit, memberikan pandangannya bahwa harga emas saat ini sedang mengalami kesulitan untuk menembus level Moving Average 21 dan 34. Level-level tersebut saat ini berperan sebagai resistance dinamis yang cukup kuat menahan laju kenaikan harga di pasar logam mulia.
Kegagalan harga untuk melewati batas resistance tersebut dipandang sebagai sinyal kuat bahwa tekanan jual masih mendominasi pergerakan pasar saat ini. Selama harga emas tetap bertahan di bawah level teknis tersebut, peluang bagi komoditas ini untuk melanjutkan tren penurunan dinilai masih sangat terbuka lebar.
Selain indikator rata-rata bergerak, munculnya pola teknikal berupa bearish pennant juga semakin memperkuat proyeksi pelemahan harga emas dalam waktu dekat. Pola ini biasanya terbentuk setelah periode penurunan yang signifikan dan sering kali menjadi petunjuk teknis bahwa tren penurunan akan terus berlanjut ke level yang lebih rendah.
Dengan kondisi pasar yang dipenuhi indikasi pelemahan tersebut, para pelaku pasar diperkirakan akan tetap melihat kecenderungan harga bergerak melandai. Hal ini menjadi perhatian penting bagi para investor emas yang memantau pergerakan harga Antam di tengah fluktuasi pasar global pada akhir April 2026.