Harga minyak mentah dunia dilaporkan mengalami penurunan akibat mandeknya proses negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran yang diiringi dengan berlanjutnya pembatasan jalur perdagangan di kawasan Selat Hormuz. Situasi ini menyebabkan pasar mendingin meskipun sempat terjadi lonjakan harga pada sesi sebelumnya yang dipicu oleh penurunan cadangan bensin serta distilat di Amerika Serikat.
Berdasarkan data dari CNBC International pada Kamis (23/4/2026), harga minyak mentah jenis Brent terpantau melemah sebesar 15 sen ke level US$101,76 per barel. Penurunan ini terjadi setelah pada perdagangan hari sebelumnya harga Brent berhasil ditutup di atas angka US$100 untuk pertama kalinya dalam kurun waktu lebih dari dua pekan terakhir.
Koreksi serupa juga dialami oleh minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) yang turun 14 sen hingga menyentuh posisi US$92,82 per barel. Padahal, sehari sebelumnya kedua jenis minyak acuan ini sempat meroket lebih dari US$3 akibat sentimen positif dari laporan penurunan stok bahan bakar di Amerika Serikat yang jauh lebih besar dari estimasi pasar.
Statistik Harga Minyak dan Persediaan Energi AS
| Indikator Pasar | Nilai / Perubahan |
|---|---|
| Harga Minyak Brent | US$101,76 per barel (Turun 15 sen) |
| Harga Minyak WTI | US$92,82 per barel (Turun 14 sen) |
| Ekspor Minyak Mentah & Produk Petroleum AS | 12,88 juta barel per hari (Rekor Tertinggi) |
| Stok Minyak Mentah AS | Naik 1,9 juta barel |
| Stok Bensin AS | Turun 4,6 juta barel (Proyeksi awal turun 1,5 juta) |
| Stok Distilat AS | Turun 3,4 juta barel (Proyeksi awal turun 2,5 juta) |
Kurangnya progres signifikan dalam dialog perdamaian menjadi faktor utama yang mempengaruhi fluktuasi harga komoditas energi global saat ini. Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan untuk memperpanjang masa gencatan senjata sesuai permintaan mediator dari Pakistan, namun ketegangan di lapangan masih terasa sangat nyata.
Hingga saat ini, baik Iran maupun Amerika Serikat tetap memberlakukan pembatasan ketat terhadap lalu lintas kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz. Jalur laut yang sangat strategis ini diketahui memfasilitasi sekitar 20 persen dari total pasokan harian minyak bumi dan gas alam cair (LNG) secara global sebelum konflik pecah pada akhir Februari lalu.
Kondisi di Selat Hormuz semakin memanas setelah pihak Iran dilaporkan menyita dua kapal pada hari Rabu untuk memperketat kendali atas jalur pelayaran tersebut. Sebagai respons, Donald Trump tetap mempertahankan kebijakan blokade Angkatan Laut Amerika Serikat terhadap aktivitas perdagangan laut yang dilakukan oleh pihak Iran.
Mohammad Baqer Qalibaf selaku Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata penuh mustahil tercapai tanpa penghapusan blokade laut tersebut. Ia menyatakan bahwa pencabutan blokade merupakan syarat mutlak bagi Iran untuk melanjutkan proses rekonsiliasi yang lebih formal dengan pihak Gedung Putih.
Laporan dari sumber keamanan maritim menyebutkan bahwa militer Amerika Serikat telah mencegat setidaknya tiga kapal tanker berbendera Iran di wilayah perairan Asia. Kapal-kapal tersebut dipaksa untuk mengalihkan rute pelayarannya agar menjauh dari kawasan perairan di sekitar India, Malaysia, serta Sri Lanka demi mematuhi sanksi yang berlaku.
Meskipun situasi memanas, Trump dikabarkan sempat membatalkan instruksi serangan terhadap infrastruktur pembangkit listrik dan jembatan di wilayah Iran pada detik-detik terakhir Selasa lalu. Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyampaikan bahwa saat ini belum ada penetapan batas waktu yang pasti mengenai durasi perpanjangan gencatan senjata tersebut.
Di tengah konflik yang terus berlangsung, total ekspor minyak mentah dan produk petroleum dari Amerika Serikat justru meningkat sebesar 137.000 barel per hari hingga mencapai rekor 12,88 juta barel per hari. Peningkatan angka ekspor ini didorong oleh tingginya permintaan dari pasar Asia dan Eropa yang mencari alternatif pasokan akibat gangguan distribusi di Timur Tengah.
Berdasarkan data resmi dari Administrasi Informasi Energi AS (EIA), terdapat anomali dalam persediaan energi di mana stok minyak mentah justru meningkat sebesar 1,9 juta barel. Namun, penurunan drastis pada stok bensin yang mencapai 4,6 juta barel jauh melampaui prediksi awal para analis yang hanya memperkirakan penyusutan sebesar 1,5 juta barel.
Penurunan stok distilat juga tercatat lebih tajam dari ekspektasi pasar, yakni menyusut sebesar 3,4 juta barel dari proyeksi awal yang hanya sebesar 2,5 juta barel. Ketidakseimbangan antara suplai dan permintaan ini terus menjadi perhatian serius para pelaku pasar migas di seluruh penjuru dunia dalam menentukan strategi investasi mereka.