PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) berhasil mencatatkan pencapaian signifikan dengan membukukan total dana kelolaan atau asset under management (AUM) mencapai Rp124 triliun pada kuartal I/2026. Angka yang fantastis ini diperkirakan akan terus mengalami peningkatan yang lebih besar seiring dengan tuntasnya proses akuisisi terhadap Schroders Indonesia oleh pihak perusahaan.
Pihak manajemen optimistis bahwa aksi korporasi strategis tersebut akan memperkokoh dominasi mereka di pasar modal Indonesia sekaligus memperluas diversifikasi produk yang ditawarkan kepada nasabah. Langkah ini diambil guna merespons dinamika pasar keuangan yang terus berkembang pesat di tanah air serta memenuhi kebutuhan investasi masyarakat yang semakin beragam.
Ekspansi Pasar dan Proyeksi Pasca Akuisisi
Paul Lorentz, selaku President & CEO Global Wealth and Asset Management Manulife Investment Management, mengungkapkan bahwa pihaknya melihat adanya potensi pertumbuhan yang sangat menjanjikan dari hasil akuisisi Schroders Indonesia tersebut. Lorentz menegaskan meski saat ini MAMI sudah menempati posisi nomor satu di Indonesia, akuisisi ini tetap menjadi motor penggerak utama untuk meningkatkan skala bisnis di masa mendatang.
Walaupun skala bisnis perusahaan tidak serta-merta menjadi dua kali lipat lebih besar secara instan, penggabungan kekuatan ini akan memberikan nilai tambah yang sangat besar bagi ekosistem investasi Manulife. Sinergi antara dua raksasa manajer investasi ini diyakini mampu menciptakan peluang-peluang baru yang sebelumnya belum tergarap secara maksimal di pasar domestik.
Berdasarkan data operasional terbaru, saat ini Manulife Aset Manajemen Indonesia telah resmi mengelola dana sebesar Rp124 triliun yang tersebar di berbagai instrumen investasi. Catatan pada akhir tahun 2025 menunjukkan bahwa sebelum memperhitungkan integrasi dengan Schroders, MAMI sudah berhasil menguasai pangsa pasar total AUM sebesar 11,94% secara nasional.
Pencapaian tersebut juga diperkuat dengan dominasi pangsa pasar pada sektor reksa dana yang mencapai angka 9,33% sebelum proses penggabungan dengan Schroders dilakukan secara penuh. Kehadiran basis nasabah yang kuat menjadi modal utama bagi perseroan untuk mempertahankan pertumbuhan positif di tengah volatilitas ekonomi global yang dinamis.
| Indikator Kinerja | Nilai / Persentase |
|---|---|
| Total Dana Kelolaan (AUM) Q1/2026 | Rp124 Triliun |
| Pangsa Pasar Total AUM (Akhir 2025) | 11,94% |
| Pangsa Pasar Reksa Dana (Akhir 2025) | 9,33% |
Sinergi Produk dan Strategi Layanan
Lorentz menambahkan bahwa melalui pertimbangan matang terhadap penggabungan basis nasabah dengan Schroders Indonesia, produk yang ditawarkan oleh perseroan nantinya dipastikan akan menjadi jauh lebih lengkap. Keunggulan spesifik yang dibawa oleh Schroders Indonesia dalam bidang investasi ekuitas atau saham serta basis nasabah ritel yang sangat masif menjadi keunggulan kompetitif yang akan diintegrasikan.
Hal ini memungkinkan Manulife untuk menjangkau segmen pasar yang lebih luas dan menyediakan solusi keuangan yang lebih spesifik bagi berbagai kalangan investor. Kolaborasi ini juga diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional perusahaan dalam mengelola aset-aset yang dipercayakan oleh para investor ritel maupun institusi.
Mengenai tren pasar saat ini, Lorentz mengamati bahwa arus dana investor terlihat cenderung mengalir deras ke instrumen aset pendapatan tetap atau obligasi seiring dengan adanya tren penurunan suku bunga. Sebaliknya, instrumen produk saham saat ini dinilai belum terlalu diminati oleh publik jika dibandingkan dengan aset pendapatan tetap yang menawarkan stabilitas lebih tinggi.
Kendati demikian, pihak Manulife tetap meyakini bahwa seiring dengan semakin matangnya kondisi pasar modal Indonesia, peluang investasi di sektor ekuitas atau saham akan kembali tumbuh besar. Strategi jangka panjang perusahaan tetap difokuskan pada penguatan portofolio saham untuk menyambut momentum pemulihan minat pasar terhadap instrumen ekuitas tersebut.
Akuisisi strategis terhadap Schroders Indonesia diharapkan dapat terus mendorong perluasan basis nasabah serta memperkuat penawaran produk yang lebih kompetitif di industri keuangan. Peningkatan pangsa pasar ini ditargetkan terjadi secara merata, baik pada segmen nasabah ritel perseorangan maupun pada segmen nasabah institusional berskala besar.
Lorentz menutup pernyataannya dengan menekankan bahwa penggabungan kekuatan terbaik dari kedua perusahaan raksasa ini bertujuan untuk menciptakan solusi investasi yang unik dan relevan bagi publik. Inovasi produk ini menjadi kunci utama bagi Manulife Aset Manajemen Indonesia untuk tetap menjadi pemimpin pasar yang dipercaya oleh masyarakat luas dalam mengelola kekayaan mereka.