Tiga Tips Kelola Stres Menjelang UTBK dari Pakar UB Melalui Regulasi Pikiran dan Emosi

Tiga Tips Kelola Stres Menjelang UTBK dari Pakar UB Melalui Regulasi Pikiran dan Emosi
Foto: Ilustrasi Tiga Tips Kelola Stres Menjelang UTBK dari Pakar UB Melalui Regulasi Pikiran dan Emosi.

Menjelang pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer atau UTBK, banyak peserta yang sering kali merasakan tekanan mental atau stres yang cukup signifikan. Fenomena ini muncul karena hasil ujian tersebut menjadi faktor penentu utama bagi calon mahasiswa untuk bisa diterima di perguruan tinggi negeri impian mereka.

Salah seorang peserta ujian di Universitas Brawijaya bernama Melkior Natanael mengungkapkan bahwa dirinya tetap merasa cemas meski sudah melakukan persiapan belajar secara maksimal. Perasaan gelisah tersebut semakin memuncak saat hari pelaksanaan ujian sudah di depan mata dan ia merasa tidak puas dengan hasil simulasi mandiri yang dilakukannya.

Melalui keterangan resmi Universitas Brawijaya pada Kamis, 23 April 2026, Melkior menjelaskan bahwa ia cenderung memaksakan diri untuk belajar lebih keras akibat rasa kurang percaya diri. Hal senada juga disampaikan oleh peserta lain bernama Fika yang merasa emosinya bercampur aduk antara lega sekaligus cemas terkait peluang kelulusannya di program studi pilihan.

Stres Menjelang Ujian Adalah Hal Wajar

Dosen Psikologi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya, Dr. Sumi Lestari, S.Psi., M.Si., menyatakan bahwa rasa tertekan sebelum menghadapi peristiwa penting adalah hal yang sangat normal. Namun, ia memperingatkan bahwa kondisi psikis tersebut harus dikelola dengan tepat agar tidak menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan fisik maupun mental peserta.

Menurut Dr. Sumi, UTBK sering kali dianggap sebagai pintu gerbang utama menuju masa depan sehingga peserta cenderung memberikan upaya fisik yang sangat besar. Fokus yang berlebihan pada ekspektasi kesuksesan inilah yang kemudian berpotensi menjadi sumber tekanan serta menyebabkan kelelahan yang mendalam bagi para calon mahasiswa.

Berbagai Faktor Pemicu Stres UTBK

Pemicu stres yang pertama adalah munculnya rasa cemas berlebih, di mana dalam ilmu psikologi terdapat perbedaan antara stres yang bersifat konstruktif dan destruktif. Stres konstruktif atau eustress justru memotivasi seseorang untuk bekerja keras menghindari kegagalan, sementara stres destruktif atau distress cenderung merusak fokus dan membuat seseorang merasa rendah diri.

Sumi menyarankan agar peserta menghindari jenis stres destruktif yang bisa memicu perilaku kontraproduktif seperti memforsir belajar hingga melupakan waktu makan serta jam istirahat. Faktor kedua adalah persiapan yang kurang matang yang memicu pikiran berlebihan atau overthinking karena individu merasa tidak siap menghadapi materi ujian yang sulit.

Terakhir, stres dapat dipicu oleh adanya standar harapan yang tidak sejalan dengan kapasitas atau kemampuan diri yang dimiliki oleh setiap peserta. Penetapan target yang terlalu tinggi tanpa mempertimbangkan batas kemampuan pribadi justru akan mengakibatkan rasa tidak puas serta munculnya sikap mengkritik diri sendiri secara berlebihan.

Panduan Mengelola Stres Menurut Pakar

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Dr. Sumi Lestari membagikan beberapa strategi efektif guna meregulasi pikiran dan emosi bagi para pejuang UTBK. Berikut adalah rincian strategi yang bisa diterapkan agar kondisi mental tetap stabil selama periode ujian berlangsung:

Metode Pengelolaan Penjelasan Strategi
Manajemen Pikiran Menggunakan strategi kognitif untuk berpikir rasional dan mengeliminasi asumsi negatif yang belum tentu menjadi kenyataan di masa depan.
Regulasi Emosi Menjaga ketenangan batin agar daya ingat tetap optimal dan fokus tetap terjaga saat sedang menyelesaikan soal-soal ujian yang rumit.
Manajemen Waktu Mengatur jadwal belajar dan latihan soal secara konsisten jauh-jauh hari guna menghindari tekanan sistem kebut semalam yang merugikan.

Sumi menegaskan bahwa menjaga optimisme sangat krusial karena setiap usaha keras yang telah dilakukan oleh peserta pasti akan membuahkan hasil yang berharga. Ia berpesan bahwa jika hasil akhir tidak sesuai harapan, hal itu bukanlah akhir dari segalanya karena masih banyak kesempatan lain yang terbuka lebar.

Dengan menerapkan keseimbangan antara belajar dan menjaga kesehatan mental, peserta diharapkan mampu menghadapi UTBK dengan kondisi yang prima secara fisik maupun psikis. Regulasi diri yang baik merupakan kunci utama agar proses perjuangan menuju bangku perkuliahan tidak berakhir dengan gangguan kesehatan mental yang serius.

Artikel terkait

Rekomendasi