Syahdika dan Rekan Ciptakan Aplikasi Keuangan Berbasis AI untuk Teman Tuli

Syahdika dan Rekan Ciptakan Aplikasi Keuangan Berbasis AI untuk Teman Tuli
Foto: Ilustrasi Syahdika dan Rekan Ciptakan Aplikasi Keuangan Berbasis AI untuk Teman Tuli.

Google Indonesia secara resmi menetapkan 2.000 mahasiswa sebagai Google Student Ambassador (GSA) 2026 setelah menyisihkan lebih dari 81.000 pendaftar dari berbagai penjuru tanah air. Para duta terpilih ini dipersiapkan menjadi pemimpin masa depan melalui rangkaian pelatihan mendalam, bimbingan teknis, serta sertifikasi eksklusif di bidang kecerdasan buatan atau AI.

Program Google Student Ambassador sendiri merupakan sebuah inisiatif strategis yang dirancang untuk memberdayakan generasi muda melalui penguasaan teknologi digital terkini. Seluruh duta diharapkan dapat berperan aktif dalam mempromosikan pemanfaatan AI secara inklusif, bertanggung jawab, serta memberikan dampak positif bagi lingkungan kampus masing-masing.

Dalam menyambut ribuan duta mahasiswa baru tersebut, Google Indonesia memperkenalkan sosok inspiratif bernama Syahdika Kurnia Azhari yang telah berhasil menorehkan prestasi gemilang. Syahdika merupakan mahasiswa angkatan 2023 dari Program Studi D4 Teknologi Rekayasa Instalasi Listrik, Jurusan Teknik Elektro, Politeknik Negeri Medan (Polmed).

Motivasi utama Syahdika dalam setiap kegiatannya adalah keinginan kuat untuk menciptakan solusi yang memiliki dampak nyata bagi masyarakat luas. Semangat ini pula yang ia bawa saat berkompetisi dalam ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) di kampusnya melalui pengembangan inovasi teknologi.

Salah satu karya unggulannya yang diperkenalkan pada ajang tersebut adalah Sign-Ai Pro, sebuah platform berbasis web yang berfungsi sebagai penerjemah bahasa isyarat secara real-time. Melalui teknologi computer vision, aplikasi ini dirancang untuk menjembatani kendala komunikasi antara penyandang disabilitas dengan masyarakat yang belum memahami bahasa isyarat.

Aplikasi Sign-Ai Pro dikembangkan dengan bantuan Gemini Canvas sehingga mampu beroperasi secara praktis hanya menggunakan perangkat webcam tanpa memerlukan alat tambahan lainnya. Di sisi lain, minat mendalam Syahdika pada dunia pemrograman juga ia asah secara mandiri melalui metode belajar otodidak dan pemanfaatan perangkat AI selama menjadi GSA.

Selain fokus pada disabilitas, Syahdika juga berkolaborasi dengan rekannya, Akbar Fiki Muhammad dan Syafril Pramana Pulungan, untuk mengembangkan aplikasi pemberdayaan perempuan bertajuk SheSuccess. Proyek ini dijalankan di bawah bimbingan dosen Politeknik Negeri Medan, Abdullah, dengan target utama membantu para ibu di Desa Sei Rotan, Deli Serdang.

SheSuccess hadir sebagai solusi digital terintegrasi Google Gemini yang menyediakan fitur pencatatan keuangan cerdas bagi para pelaku usaha mikro perempuan. Selain itu, aplikasi ini juga dilengkapi dengan fitur kalkulator usaha berbasis AI yang berfungsi menghitung modal secara akurat serta menentukan harga jual yang kompetitif.

Kecanggihan SheSuccess berlanjut dengan adanya fitur desain kemasan berbasis kecerdasan buatan untuk membantu proses rebranding produk agar terlihat lebih menarik di pasaran. Para pengguna juga dapat memanfaatkan fitur SheStory untuk berbagi pengalaman antar sesama pengusaha serta fitur SheBot sebagai asisten virtual yang solutif.

Syahdika menjelaskan bahwa SheBot berfungsi sebagai pusat konsultasi bagi para ibu yang ingin mencari solusi spesifik terkait pengembangan unit usaha yang sedang mereka bangun. Sebagai pemimpin tim dan ahli strategi implementasi AI, ia memanfaatkan Google Gemini secara ekstensif untuk merancang tata letak, konsep fitur, hingga mekanisme kerja aplikasi.

Proses pengembangan teknis dilakukan dengan menyusun layout melalui Gemini Canvas yang kemudian diproses lebih lanjut menggunakan perangkat lunak Android Studio yang telah terintegrasi sistem Google. Berkat potensi besarnya, proyek sosial SheSuccess berhasil mendapatkan pendanaan dalam ajang Inovillage 2025 yang diselenggarakan oleh Telkom Indonesia bersama Telkom University.

Sebelum keberhasilan SheSuccess, Syahdika juga telah menciptakan Gizwa (Gizi Siswa), sebuah situs web edukasi yang memfokuskan diri pada isu keamanan pangan dan nutrisi. Inovasi ini bermula dari keprihatinannya terhadap kasus makanan tidak layak dalam program Makan Bergizi Gratis, yang kemudian ia bawa hingga ke ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas).

Melalui Gizwa, pengguna dapat menghitung kebutuhan gizi secara akurat serta mendapatkan edukasi mengenai cara mengolah makanan bergizi bagi anak-anak melalui panduan yang disusun bantuan AI. Syahdika merasa sangat terbantu dengan keberadaan AI karena memudahkannya untuk terus berinovasi sekaligus bersaing dalam berbagai kompetisi ilmiah tingkat nasional.

Dalam rutinitas akademik sebagai mahasiswa teknik, ia juga sering memanfaatkan Gemini Deep Research untuk mempermudah penyusunan laporan praktikum agar lebih sistematis dan mendalam. Salah satu trik kreatifnya adalah menggunakan bantuan NanoBanana untuk mengubah tangkapan layar data mentah menjadi tabel yang lebih estetik dan informatif di dalam Google Docs.

Country Marketing Manager Google Indonesia, Muriel Makarim, memberikan apresiasi tinggi dan berharap kisah Syahdika dapat memotivasi para duta mahasiswa 2026 lainnya. Ia menekankan pentingnya penggunaan AI secara etis dan bermanfaat agar setiap perjalanan inovasi mahasiswa mampu membawa dampak positif bagi kemajuan dunia pendidikan di Indonesia.

Statistik dan Pencapaian Program GSA 2026

Kategori Data Keterangan Statistik
Jumlah Pendaftar GSA 2026 81.000+ Mahasiswa
Peserta yang Lolos Seleksi 2.000 Mahasiswa
Inovasi Syahdika (Disabilitas) Sign-Ai Pro (Web-based Translation)
Inovasi Syahdika (Pemberdayaan) SheSuccess (UMKM Perempuan)
Inovasi Syahdika (Kesehatan) Gizwa (Gizi Siswa)

Artikel terkait

Rekomendasi