Studi Ungkap Otak Ibu dan Anak Tetap Bisa Sinkron Walau Berkomunikasi dengan Bahasa Berbeda

Studi Ungkap Otak Ibu dan Anak Tetap Bisa Sinkron Walau Berkomunikasi dengan Bahasa Berbeda
Foto: Ilustrasi Studi Ungkap Otak Ibu dan Anak Tetap Bisa Sinkron Walau Berkomunikasi dengan Bahasa Berbeda.

Koneksi mendalam antara ibu dan anak yang sering disebut sebagai ikatan batin kini mendapatkan pembuktian ilmiah melalui penelitian aktivitas otak terbaru. Para peneliti berhasil menemukan bahwa otak seorang ibu dan buah hatinya tetap mampu menjalin koneksi yang sinkron meskipun mereka berkomunikasi menggunakan bahasa yang berbeda.

Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Cognition pada 18 Februari 2026 oleh tim ilmuwan dari Universitas Nottingham, Inggris, yang mengamati interaksi saat bermain. Studi tersebut menunjukkan adanya aktivitas saraf yang selaras atau disebut sebagai ikatan otak, sebuah fenomena yang tetap muncul meski terdapat perbedaan bahasa di antara keduanya.

Fenomena ini secara teknis dikenal dengan istilah interbrain synchrony, yang biasanya termanifestasi saat individu terlibat dalam aktivitas bersama seperti bekerja, belajar, atau bernyanyi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah perbedaan penguasaan bahasa atau bilingualisme memberikan pengaruh signifikan terhadap sinkronisasi saraf yang terjadi.

Eksperimen dan Metodologi Penelitian

Tim peneliti melibatkan 15 pasangan ibu dan anak bilingual yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama mereka dalam sebuah eksperimen terkontrol. Para peserta diminta untuk berinteraksi dalam beberapa skenario berbeda guna mengukur respon otak mereka secara presisi selama proses tersebut berlangsung.

Kondisi Eksperimen Deskripsi Aktivitas
Kondisi Pertama Ibu dan anak bermain bersama dengan menggunakan bahasa ibu mereka.
Kondisi Kedua Ibu dan anak bermain bersama dengan menggunakan bahasa Inggris.
Kondisi Ketiga Ibu dan anak bermain sendiri-sendiri dalam diam dan dipisahkan oleh layar.

Selama proses pengamatan, setiap pasangan ibu dan anak mengenakan perangkat khusus berupa topi fNIRS atau functional near-infrared spectroscopy. Alat ini berfungsi memantau aktivitas saraf di area korteks prefrontal serta junction temporoparietal yang merupakan wilayah otak pengatur perilaku sosial manusia.

Data menunjukkan bahwa sinkronisasi otak meningkat secara drastis saat ibu dan anak bermain bersama tanpa terpengaruh oleh jenis bahasa yang mereka pilih. Perbandingan menunjukkan bahwa tingkat keselarasan saraf ini jauh lebih tinggi dibandingkan saat mereka melakukan aktivitas secara mandiri atau terpisah.

Hasil Temuan dan Signifikansi Area Otak

Sinkronisasi saraf ditemukan paling kuat pada bagian korteks prefrontal yang bertanggung jawab atas fungsi eksekutif seperti pengambilan keputusan dan ekspresi kepribadian. Sebaliknya, area junction temporoparietal yang berkaitan dengan kognisi sosial serta rasa diri menunjukkan tingkat sinkronisasi yang cenderung lebih lemah.

Para penulis studi menjelaskan bahwa perbedaan usia dalam mempelajari bahasa kedua antara orang tua dan anak tidak menghambat terciptanya keselarasan otak tersebut. Meskipun anak bilingual biasanya belajar bahasa lebih dini dibanding orang tua mereka, ikatan saraf yang terbentuk tetap terlihat sangat kokoh.

Fakta menarik lainnya adalah bahwa perbedaan waktu belajar bahasa seringkali dianggap bisa menciptakan jarak emosional dalam komunikasi keluarga. Peneliti mencatat bahwa penggunaan bahasa kedua terkadang memengaruhi cara seseorang mengekspresikan empati, disiplin, atau kasih sayang terhadap orang lain di sekitarnya.

Pentingnya Komunikasi dan Isyarat Nonverbal

Walaupun bilingualisme sering dianggap sebagai tantangan, penelitian ini membuktikan bahwa tumbuh dengan banyak bahasa justru mendukung proses pembelajaran yang sehat. Douglas Hartley selaku profesor otologi di University of Nottingham menyatakan bahwa fenomena ini memperkuat kualitas komunikasi dalam perkembangan anak.

Penelitian ini juga memberikan sorotan khusus pada peran penting isyarat nonverbal seperti kontak mata dan gerakan tubuh di luar bahasa verbal. Faktor-faktor fisik tersebut ternyata memegang peranan krusial dalam menyatukan frekuensi otak antara ibu dan anak selama interaksi berlangsung.

Ke depannya, tim peneliti menyarankan agar studi lanjutan memperluas cakupan subjek penelitian pada keluarga dengan tingkat kefasihan bahasa kedua yang lebih rendah. Hal ini penting untuk memahami lebih dalam bagaimana dinamika bahasa memengaruhi hubungan emosional serta perkembangan kognitif anak secara menyeluruh.

Artikel terkait

Rekomendasi