Rektor Universitas Paramadina, Prof Didik J Rachbini, memberikan tanggapan kritis terkait rencana Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) untuk menutup program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri atau mengalami kelebihan pasokan lulusan. Beliau menilai bahwa rencana tersebut mencerminkan visi jangka pendek yang terlalu berfokus pada kebutuhan pasar dan industri semata.
Didik menjelaskan bahwa meskipun kebutuhan industri akan tenaga kerja terampil dengan keahlian teknis sangat penting, kebijakan ini berisiko mereduksi makna pendidikan yang sesungguhnya. Menurut pandangannya, pendidikan bukan sekadar sarana menempa keterampilan teknis manusia, melainkan sebuah proses holistik untuk mencapai martabat, keselamatan, dan kebahagiaan tertinggi.
Pendidikan seharusnya berfungsi sebagai ruang pembentukan manusia seutuhnya melalui proses berpikir, merasakan, memilih nilai, serta membangun rasa tanggung jawab yang mendalam. Didik menegaskan bahwa institusi pendidikan tinggi mengemban peran yang tidak tergantikan dan tidak seharusnya sepenuhnya tunduk pada logika pasar maupun kepentingan industri.
Rencana penutupan program studi tersebut memunculkan persepsi bahwa jurusan-jurusan tertentu tidak lagi bernilai hanya karena kurang diminati oleh pasar saat ini. Padahal, perguruan tinggi idealnya menjadi wadah untuk memelihara berbagai disiplin ilmu yang mungkin belum memiliki nilai ekonomi langsung namun sangat penting bagi peradaban jangka panjang.
Apabila pendidikan tinggi hanya diposisikan sebagai penyedia keterampilan bagi industri, Didik khawatir makna pendidikan akan semakin menyempit dan kehilangan esensinya. Beliau memperingatkan adanya risiko besar bagi bangsa jika kebijakan ini tetap dilaksanakan tanpa pertimbangan yang lebih luas.
Risiko Kehilangan Kedaulatan Intelektual
Risiko yang mungkin timbul adalah lahirnya generasi yang terampil secara teknis namun tidak reflektif, serta produktif tetapi kurang memiliki kreativitas dasar yang visioner. Didik menekankan bahwa meskipun banyak ilmu murni atau ilmu dasar tampak jauh dari dunia industri, bidang-bidang tersebut adalah fondasi utama kedaulatan intelektual sebuah negara.
Negara yang mengabaikan ilmu murni akan kehilangan kemandirian dan cenderung hanya menjadi konsumen teknologi yang diproduksi oleh bangsa lain. Dampak jangka panjang dari kebijakan ini bukan sekadar masalah akademik, melainkan menyentuh persoalan fundamental mengenai kedaulatan dan kemandirian bangsa Indonesia di masa depan.
Kritik terhadap Orientasi Bisnis Perguruan Tinggi Negeri
Didik juga memberikan sorotan tajam terhadap fenomena Perguruan Tinggi Negeri (PTN) besar seperti ITB, UGM, dan UB yang kini gencar membuka program di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Ia menilai ekspansi tersebut lebih condong pada motif bisnis karena menawarkan ilmu-ilmu praktis yang tidak berkontribusi pada pendalaman sains secara signifikan.
Praktik ekspansi komersial ini dianggap menghambat PTN untuk mencapai keunggulan kualitas dan daya saing di tingkat global. Hal inilah yang menurutnya menjadi penyebab mengapa peringkat perguruan tinggi Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, serta negara Asia lainnya.
Harapan untuk Kebijakan yang Lebih Visioner
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco, berharap agar perguruan tinggi bersedia menyeleksi dan menutup prodi tertentu demi menekan kesenjangan kompetensi lulusan dengan kebutuhan kerja. Badri mengidentifikasi bidang kependidikan sebagai salah satu yang mengalami surplus lulusan, sementara profesi dokter diprediksi akan mengalami kondisi serupa pada tahun 2028.
Namun, Didik menegaskan bahwa kebijakan tersebut tidak boleh sampai mengorbankan ilmu-ilmu murni yang merupakan pilar dasar pengetahuan. Ia mendorong agar Kemdiktisaintek bersikap lebih visioner dengan memperkuat ekosistem pendidikan yang sudah ada daripada sekadar menutup jurusan yang dianggap tidak laku.
Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukan merupakan pabrik pencetak pekerja untuk industri, melainkan instrumen utama dalam menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa yang kokoh. Membangun peradaban tidak boleh direduksi hanya menjadi pembangunan industri, karena masa depan tidak pernah dibangun hanya dari hal-hal yang terlihat berguna untuk saat ini saja.