Realita Pahit Kuliah di Luar Negeri: Biaya Habis Cuma Buat Bayar Sewa Tempat Tinggal

Realita Pahit Kuliah di Luar Negeri: Biaya Habis Cuma Buat Bayar Sewa Tempat Tinggal
Foto: Ilustrasi Realita Pahit Kuliah di Luar Negeri: Biaya Habis Cuma Buat Bayar Sewa Tempat Tinggal.

Melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di luar negeri merupakan cita-cita besar bagi banyak individu, namun saat ini para mahasiswa harus berhadapan dengan realitas pahit mengenai lonjakan biaya hidup yang signifikan. Fenomena ini sangat terasa bagi mereka yang menempuh studi di Inggris, di mana tingginya pengeluaran sehari-hari mulai membayangi ambisi akademik mereka.

Unite Group, sebagai salah satu penyedia akomodasi mahasiswa terkemuka, mengungkapkan bahwa pelajar di Inggris kini jauh lebih selektif dalam menentukan pilihan kampus mereka. Pertimbangan mahasiswa tidak lagi terbatas pada reputasi akademik atau lokasi kampus semata, melainkan juga sangat bergantung pada faktor biaya, kualitas pendidikan, serta peluang karier di masa depan.

Mahasiswa Memilih Tinggal Bersama Orang Tua

Berdasarkan laporan terbaru dari Unite Group, universitas-universitas elit di Inggris terus menaikkan biaya bagi para mahasiswanya sejalan dengan meningkatnya jumlah pendaftar yang masuk. Fenomena unik terjadi di mana institusi dengan biaya pendidikan yang lebih terjangkau justru mengalami penurunan peminat di tengah persaingan global ini.

Selain perubahan pola pendaftaran, laporan tersebut menyoroti adanya kecenderungan mahasiswa untuk tetap tinggal di rumah orang tua guna memangkas pengeluaran yang membebani keuangan mereka. Keputusan untuk tetap tinggal bersama keluarga ini dilakukan oleh mahasiswa yang berkuliah di institusi mahal maupun universitas yang lebih ekonomis demi efisiensi biaya.

Pihak Unite Group menyatakan bahwa mahasiswa masa kini memberikan perhatian yang sangat besar pada prospek lulusan dan potensi penghasilan setelah mereka menyelesaikan masa studi. Langkah selektif ini diambil agar setiap biaya besar yang telah mereka keluarkan selama kuliah dapat memberikan nilai investasi yang sepadan dengan hasil yang didapatkan.

Rincian Biaya Hidup Mahasiswa di Inggris

Data yang dihimpun dari laman Times Higher Education menunjukkan bahwa total biaya hidup di Inggris sangat bervariasi tergantung pada kota, universitas, serta jenjang pendidikan yang ditempuh. Secara rata-rata, pengeluaran tahunan seorang mahasiswa bisa menyentuh angka £9.790 atau setara dengan Rp 226 juta dengan asumsi nilai tukar £1 sebesar Rp 23.180.

Komponen Biaya Estimasi Biaya (Rupiah) Keterangan Waktu
Sewa Kamar Mahasiswa (Rata-rata) Rp 13 juta Per Bulan
Sewa Kamar Mahasiswa (London) Rp 23 juta Per Bulan
Biaya Makan (Rata-rata) Rp 4,6 juta Per Bulan
Tagihan Utilitas (Air, Gas, Listrik) Rp 1,96 juta Per Bulan
Kuota Telepon Genggam Rp 231 ribu - Rp 1,3 juta Per Bulan
Buku dan Perlengkapan Kampus Rp 1,85 juta Per Bulan
Transportasi Bus (Kartu Pelajar) Rp 1 juta Per Bulan

Sebagian besar biaya sewa tempat tinggal biasanya sudah mencakup tagihan dasar, meskipun masih ada mahasiswa yang diwajibkan membayar biaya tambahan di luar komponen tersebut. Pada akhir program sarjana selama tiga tahun, estimasi akumulasi biaya akomodasi tertinggi diprediksi bisa mencapai angka £19.000 atau setara dengan Rp 440 juta.

Umumnya, mahasiswa akan menghuni fasilitas akomodasi yang disediakan pihak universitas pada tahun pertama sebelum akhirnya mencari hunian pribadi pada tahun kedua dan ketiga. Biaya untuk tinggal di asrama atau akomodasi kampus ini sangat bergantung pada lokasi geografis dan jenis fasilitas yang dipilih oleh masing-masing individu.

Kontroversi Mengenai Sistem Pinjaman Mahasiswa

Banyak pelajar di Inggris terpaksa mengandalkan sistem "student loan" atau pinjaman pendidikan demi menutup kekurangan biaya hidup mereka selama masa perkuliahan berlangsung. Namun, penggunaan instrumen keuangan ini menuai kritik tajam karena beban finansial jangka panjang yang harus ditanggung oleh para lulusan nantinya.

Martin Lewis, seorang pembela hak konsumen, mengkritik keras sistem pinjaman ini dengan menyebutnya sebagai sebuah "mimpi buruk" serta situasi yang penuh kekacauan. Fokus kritiknya tertuju pada skema Plan 2 yang kontroversial, di mana ambang batas gaji untuk memulai pembayaran kembali akan dibekukan selama tiga tahun setelah kebijakan anggaran musim gugur.

Kebijakan pembekuan tersebut berpotensi besar meningkatkan beban pembayaran bagi para lulusan meskipun mereka berhasil mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang tergolong tinggi. Akibat tingginya bunga dan kewajiban cicilan di tengah inflasi biaya hidup, lulusan seringkali hanya menyisakan sedikit uang untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari mereka.

Artikel terkait

Rekomendasi