Perjuangan Peserta Disabilitas SNBT 2026 dalam Menggapai Mimpi Kuliah

Perjuangan Peserta Disabilitas SNBT 2026 dalam Menggapai Mimpi Kuliah
Foto: Ilustrasi Perjuangan Peserta Disabilitas SNBT 2026 dalam Menggapai Mimpi Kuliah.

Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) dalam rangka Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) tahun 2026 secara resmi telah dimulai sejak Selasa, 21 April 2026, hingga berakhir pada Kamis, 30 April 2026 mendatang. Tercatat sebanyak 871.496 peserta dari berbagai pelosok negeri mengikuti kompetisi ini, termasuk di antaranya para penyandang disabilitas yang memiliki tekad baja untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

Semangat yang luar biasa dari para peserta disabilitas ini dilandasi oleh keinginan kuat untuk mewujudkan cita-cita masa depan mereka yang terpancar di sejumlah titik ujian seperti IPB University, Universitas Airlangga (Unair), serta Universitas Jember (Unej). Di balik setiap lembar soal yang dikerjakan, tersimpan kisah perjuangan yang menginspirasi mengenai kegigihan mereka dalam menembus keterbatasan fisik demi meraih kursi di universitas impian.

Kegigihan Dua Peserta Disabilitas Daksa di IPB University

Salah satu peserta disabilitas daksa, Muhammad Tegar Bimo Santoso, menunjukkan dedikasi yang luar biasa dalam menuntut ilmu demi masa depan yang lebih cerah. Lulusan sekolah formal di Jakarta ini bukanlah sosok sembarangan, sebab ia merupakan peraih juara dalam kompetisi teknologi informasi disabilitas tingkat internasional yang diselenggarakan di Korea Selatan.

Mukmin, ayah dari Bimo yang setia mendampingi di lokasi ujian, mengungkapkan harapan besar agar putra tercintanya dapat lolos seleksi dan menekuni bidang yang selama ini diidamkan. Menurutnya, motivasi besar yang ditunjukkan Bimo merupakan bentuk kesadaran murni dari dalam diri sang anak untuk memiliki bekal hidup yang mumpuni di kemudian hari.

Bimo sendiri telah memantapkan pilihan studinya pada bidang pemasaran digital serta memiliki keinginan kuat untuk memperdalam kemampuan bahasa Jepang secara profesional. Semangatnya ini terinspirasi dari sang kakak, M Ariek Dimas Santoso, yang juga pengidap distrofi muscular progressive (DMP) namun berhasil lulus dari IPB University angkatan ke-50.

Dalam kenangannya, Mukmin menceritakan betapa kampus memberikan perhatian besar melalui pemberian kursi roda elektrik oleh Rektor IPB periode 2007-2017 kepada putra pertamanya dahulu. Sementara itu, peserta disabilitas lainnya bernama Kevin Christian Rihandi juga telah melakukan persiapan matang sebelum menghadapi rangkaian tes UTBK kali ini.

Kevin yang merupakan lulusan metode pendidikan homeschooling entrepreneur telah membidik program studi Manajemen Properti sebagai target utama dalam perjalanannya di pendidikan tinggi. Sang ibunda, Devi, menuturkan bahwa Kevin sangat rajin belajar setiap hari demi bisa menembus jurusan tersebut dengan hasil yang memuaskan.

Upaya Puluhan Peserta Disabilitas Menembus Unair

Di Universitas Airlangga, tercatat ada 22 peserta disabilitas yang sedang memperjuangkan harapan mereka untuk bisa mencicipi bangku perkuliahan di salah satu kampus terbaik di Jawa Timur tersebut. Dua di antaranya adalah Muhammad Pasha Fawwazdian dan Khalifah Nisyapuri yang datang dengan penuh optimisme saat menghadapi jadwal ujian mereka.

Pasha, yang merupakan siswa lulusan SMAN 16 Surabaya dan penyandang disabilitas tuli, menegaskan bahwa kondisi fisik yang dimilikinya sama sekali bukan penghalang besar dalam mengejar mimpi masuk PTN. Ia mengaku telah melakukan persiapan diri secara maksimal meskipun mengakui bahwa tingkat kesulitan soal UTBK tahun ini cukup bervariasi antara yang mudah dan sukar.

Pemuda asal Surabaya ini sangat mantap memilih Program Studi Psikologi di Unair karena memiliki minat besar dalam membantu sesama manusia, khususnya di bidang layanan konseling. Pasha bahkan sudah mencanangkan tujuan jangka panjang untuk menjadi seorang psikiater profesional demi memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat luas.

Dukungan dari orang-orang terdekat menjadi energi tambahan bagi Pasha, yang menganggap disabilitas sebagai sebuah kekuatan unik dan kelebihan tersendiri dalam dirinya. Meski pernah mengalami perundungan secara verbal di masa lalu, ia justru menjadikan pengalaman pahit tersebut sebagai motivasi untuk menjadi pribadi yang jauh lebih tangguh.

Kisah lainnya datang dari Khalifah Nisyapuri, peserta disabilitas daksa asal SMAN 4 Sidoarjo, yang sempat merasa sangat tegang sebelum memasuki ruang ujian di Pusat UTBK Unair. Rasa cemas yang ia rasakan perlahan hilang setelah melihat kesiapan serta keramahan para panitia yang dengan sigap membantu seluruh mobilitasnya selama di lokasi.

Khalifah sangat mengapresiasi ketersediaan fasilitas lift dan bantuan petugas yang mengantarkannya hingga ke lantai sembilan lokasi ujian dengan sangat baik dan nyaman. Ia merasa dukungan teknis semacam ini sangat krusial bagi peserta disabilitas agar mereka bisa tetap menjaga fokus sepenuhnya pada pengerjaan soal ujian.

Setelah merasakan pengalaman ujian tersebut, Khalifah merasa bahwa semua peserta memiliki kesempatan yang sama untuk sukses tanpa memandang kondisi fisik yang berbeda. Ia berpesan kepada seluruh pejuang masuk perguruan tinggi negeri lainnya agar tidak pernah merasa rendah diri dan selalu berani untuk mencoba tantangan baru.

Perjuangan Peserta di Pusat UTBK Universitas Jember

Di Universitas Jember, Muhammad Derbian Dwi Putra yang berasal dari Bondowoso menceritakan pengalamannya mengikuti ujian dengan penuh rasa percaya diri yang tinggi. Ia merasa sangat terbantu oleh fasilitas ruang ujian yang nyaman, mulai dari pendingin ruangan yang sejuk hingga tata letak perangkat komputer yang sangat ergonomis.

Kondisi lingkungan yang kondusif tersebut membuat peserta yang akrab disapa Derbi ini merasa tenang saat mengerjakan soal demi mengejar impian masuk ke Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Sebagai pengagum penulis ternama Tere Liye, Derbi menaruh harapan besar agar dirinya bisa menjadi penulis hebat di masa yang akan datang.

Berbeda dengan pengalaman Derbi yang relatif lancar, Yogi Ardiansyah yang merupakan warga asli Jember mengaku harus bekerja ekstra keras dalam menyelesaikan setiap soal. Yogi mengungkapkan bahwa bagian penalaran matematika pada layar komputer menjadi tantangan tersulit yang menguras konsentrasi dan kemampuan berpikirnya secara mendalam.

Kendati demikian, tantangan tersebut tidak sedikit pun memadamkan niat Yogi untuk bisa berkuliah di Program Studi Teknologi Informasi Universitas Jember yang telah ia incar. Ia memiliki cita-cita mulia untuk menjadi seorang dosen, sebuah profesi yang terinspirasi dari gaya mengajar para pengajar di UNEJ yang dianggapnya sangat memotivasi.

Perjuangan serupa juga dialami oleh Carissa Vania Artamevira, seorang peserta disabilitas tuli asal Jember yang merasakan beratnya persaingan dalam pengerjaan soal pengetahuan kuantitatif. Namun, Vania tetap berusaha memberikan kemampuan terbaiknya agar bisa mengamankan satu posisi di program studi Psikologi yang telah menjadi impiannya sejak lama.

Setelah seluruh proses ujian berakhir, Derbi mewakili rekan-rekannya berharap agar lingkungan kampus terus mempertahankan serta meningkatkan fasilitas yang ramah bagi penyandang disabilitas. Ia menekankan bahwa keterbatasan fisik tidak boleh menjadi alasan untuk menyerah dan setiap orang memiliki peluang untuk meraih apa pun yang mereka impikan.

Nama Peserta Jenis Disabilitas Lokasi Ujian Program Studi Pilihan
Muhammad Tegar Bimo Santoso Daksa IPB University Digital Marketing
Kevin Christian Rihandi Daksa IPB University Management Property
Muhammad Pasha Fawwazdian Tuli Unair Psikologi
Khalifah Nisyapuri Daksa Unair (Tidak Disebutkan)
Muhammad Derbian Dwi Putra Daksa Unej Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia
Yogi Ardiansyah Daksa Unej Teknologi Informasi
Carissa Vania Artamevira Tuli Unej Psikologi

Artikel terkait

Rekomendasi