Perempuan Sumba Barat Sang Pelestari Pengetahuan Benih Lokal

Perempuan Sumba Barat Sang Pelestari Pengetahuan Benih Lokal
Foto: Ilustrasi Perempuan Sumba Barat Sang Pelestari Pengetahuan Benih Lokal.

Perempuan di Kampung Adat Sodan, Sumba Barat, memegang peran yang sangat krusial dalam menjaga keberlanjutan pangan lokal melalui pelestarian pengetahuan benih tradisional. Upaya ini dilakukan secara turun-temurun oleh kaum perempuan di wilayah tersebut, termasuk oleh Mama Yuli yang tetap setia menjaga warisan leluhur mereka.

Mama Yuli mengungkapkan keprihatinannya mengenai kondisi saat ini di mana ketersediaan petatas atau ubi jalar mulai berkurang drastis dibandingkan masa lalu. Menurut penuturannya yang dikutip dari laporan Sokola Institute, penggunaan herbisida atau obat kimia telah menyebabkan tanaman yang tumbuh hanya yang sengaja ditanam setelah proses pengobatan lahan tersebut.

Perubahan dalam cara bertani dan penggunaan bahan kimia dituding menjadi faktor utama yang membuat berbagai jenis tanaman lokal kini mulai menghilang dari ekosistem. Salah satu jenis ubi yang semakin sulit ditemukan adalah luwa pi atau dikenal sebagai "ubi manusia" karena ukurannya yang sangat besar menyerupai kaki manusia.

Perempuan sebagai Penjaga dan Pendidik Pengetahuan Benih

Di wilayah Sodan, perempuan menjadi penentu utama dalam keberlanjutan pangan, terutama saat memasuki musim tanam atau yang dikenal dengan istilah wulla mangata. Tugas utama mereka adalah menyiapkan, memilih, memilah, serta mengingat karakteristik setiap benih yang kuat dan paling cocok untuk ditanam di lahan mereka.

Keahlian mendalam mengenai benih ini tidak hanya digunakan untuk kepentingan pribadi, melainkan terus diajarkan dan diwariskan secara aktif kepada generasi penerus. Para ibu atau mama-mama di Sodan memiliki pemahaman teknis yang sangat detail mengenai cara mengolah berbagai jenis tanaman lokal agar siap dikonsumsi dengan benar.

Sebagai contoh, mereka memahami bahwa biji jewawut harus melewati proses penumbukan sebanyak tiga kali agar bijinya tidak beterbangan saat diolah menjadi bahan pangan. Selain itu, terdapat tanaman bernama kamaggeha yang memiliki kulit sangat keras sehingga harus dibuka secara khusus dengan teknik tertentu sebelum masuk ke proses memasak.

Seluruh rangkaian pengetahuan ini merupakan bagian integral dalam menjaga keberagaman pangan lokal agar tidak punah tertelan zaman. Selain fungsinya sebagai sumber nutrisi utama, beberapa tanaman lokal juga diyakini memiliki manfaat kesehatan yang luar biasa bagi masyarakat adat setempat.

Salah satu contoh pemanfaatan tanaman sebagai pengobatan tradisional adalah air rebusan kamaggeha yang sering digunakan sebagai obat untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Hal ini menunjukkan bahwa peran perempuan mencakup aspek yang sangat luas, mulai dari penyedia pangan hingga penjaga kesehatan keluarga melalui alam.

Upaya Mempertahankan Benih Lokal di Tengah Arus Modernisasi

Meskipun benih-benih pabrikan dari toko kini semakin mudah didapatkan dan banyak digunakan, para perempuan di Sodan tetap teguh berupaya mempertahankan eksistensi benih lokal. Langkah nyata yang mereka lakukan adalah dengan menanam benih-benih tradisional tersebut di area pekarangan rumah atau di tepian kebun agar tidak hilang begitu saja.

Bagi komunitas perempuan di sana, benih lokal bukan hanya dianggap sebagai bahan pangan semata, melainkan bagian dari identitas pengetahuan dan tradisi yang wajib dilindungi. Mereka secara konsisten menanamkan nilai-nilai pentingnya menjaga benih lokal kepada anak-anak dan seluruh anggota keluarga agar kesadaran tersebut tidak terputus.

Melalui peran strategis ini, perempuan di Kampung Adat Sodan telah bertransformasi menjadi benteng terakhir bagi penjaga pengetahuan pangan lokal yang sangat berharga. Di tangan para perempuan tangguh ini, benih tidak hanya sekadar disimpan di dalam wadah, tetapi diwariskan sebagai jaminan keberlanjutan pangan bagi masa depan generasi mereka.

Artikel terkait

Rekomendasi