Penelitian Mengungkap 1 dari 20 Bayi di Dunia Jadi Korban Kekerasan Fisik dan Sosok Pelakunya

Penelitian Mengungkap 1 dari 20 Bayi di Dunia Jadi Korban Kekerasan Fisik dan Sosok Pelakunya
Foto: Ilustrasi Penelitian Mengungkap 1 dari 20 Bayi di Dunia Jadi Korban Kekerasan Fisik dan Sosok Pelakunya.

Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal eClinicalMedicine pada awal Maret 2026 mengungkapkan fakta memprihatinkan mengenai kondisi keselamatan bayi di seluruh dunia. Laporan tersebut menunjukkan bahwa sekitar satu dari 20 bayi secara global menjadi korban kekerasan fisik yang mencakup tindakan seperti memukul bokong, menampar, hingga mengguncang tubuh bayi.

Studi kolaboratif yang dilakukan oleh para peneliti dari The University of British Columbia (UBC) dan Memorial University of Newfoundland (MUN) ini menganalisis sekitar 220.000 laporan kasus. Tim ahli meninjau secara mendalam hingga 20 studi terkait untuk memahami interaksi antara bayi dan pengasuh mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan tinjauan tersebut, ditemukan bahwa sebanyak 4,8 persen pengasuh mengakui telah melakukan tindakan agresif secara fisik terhadap bayi yang berusia di bawah 24 bulan. Temuan ini memberikan gambaran nyata mengenai risiko kekerasan yang dihadapi anak-anak pada tahap usia yang paling rentan tersebut.

Keterlibatan Orang Tua dalam Tindakan Agresif

Hasil penelitian menyoroti bahwa pelaku kekerasan fisik terhadap bayi tidak hanya terbatas pada pengasuh dari luar lingkungan keluarga saja. Data menunjukkan bahwa sekitar empat hingga lima persen orang tua juga menunjukkan perilaku agresif secara fisik terhadap darah daging mereka sendiri.

Dr. Nichole Fairbrother, yang menjabat sebagai profesor klinis di Departemen Praktik Keluarga UBC, menekankan bahwa temuan ini harus menjadi bahan refleksi kolektif bagi masyarakat luas. Ia menyatakan bahwa angka kekerasan yang sebenarnya sering kali jauh melampaui data yang tercatat secara resmi pada lembaga perlindungan anak.

Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan yang signifikan antara realitas di lapangan dengan laporan administratif yang masuk ke pihak berwenang. Melalui penggunaan survei anonim dalam riset ini, para peneliti berhasil mengungkap banyak kasus kekerasan terhadap bayi yang selama ini tidak terdeteksi oleh sistem hukum.

Dr. Jon Fawcett selaku asisten profesor di MUN yang ikut memimpin riset ini menjelaskan bahwa survei anonim memberikan ruang bagi pengasuh untuk jujur mengenai perilaku mereka. Hal ini memungkinkan terungkapnya tindakan yang tidak pernah dilaporkan ke klinik medis, kepolisian, ataupun petugas layanan sosial di wilayah setempat.

Pemicu Stres dan Pentingnya Dukungan Keluarga

Dalam kategori tindakan kekerasan yang ditemukan, memukul pantat bayi tercatat sebagai bentuk agresi yang paling sering terjadi dibandingkan tindakan mengguncang tubuh. Meski frekuensinya berbeda, para peneliti menegaskan bahwa segala bentuk kontak fisik yang kasar tetap harus mendapatkan perhatian serius demi tumbuh kembang anak.

Studi ini juga menggarisbawahi bahwa tugas merawat bayi merupakan sebuah pengalaman yang sangat menantang dan penuh dengan tekanan emosional. Faktor-faktor seperti kurang tidur, tangisan bayi yang tidak kunjung berhenti, hingga kesulitan ekonomi dapat memicu tingkat stres yang tinggi pada orang tua maupun pengasuh.

Dalam situasi yang sangat melelahkan dan penuh rasa frustrasi, sebagian pengasuh mungkin bereaksi secara spontan dengan melakukan tindakan fisik yang tidak semestinya. Oleh karena itu, tim peneliti sangat menekankan perlunya dukungan komprehensif bagi keluarga baru guna mencegah terjadinya eskalasi emosi negatif tersebut.

Bentuk dukungan yang disarankan mencakup penyediaan edukasi pengasuhan, layanan konsultasi kesehatan mental, hingga program pendampingan khusus bagi orang tua yang baru memiliki anak. Dr. Fairbrother menyatakan bahwa memahami skala masalah ini secara akurat merupakan langkah awal yang krusial untuk merumuskan strategi pencegahan yang efektif.

Kebijakan Perlindungan Anak secara Global

Selain dukungan sosial, adanya kebijakan hukum yang jelas yang melarang segala bentuk hukuman fisik terhadap anak juga dianggap sebagai faktor kunci. Negara-negara yang memiliki regulasi tegas terhadap hukuman fisik dinilai berhasil mengirimkan pesan konsisten bahwa kekerasan tidak memiliki tempat dalam metode pengasuhan.

Masa bayi merupakan tahap kehidupan manusia yang paling rentan terhadap trauma fisik maupun psikologis yang berdampak jangka panjang. Sayangnya, banyak sekali insiden agresi fisik yang terjadi di lingkungan domestik yang tidak pernah muncul dalam catatan resmi lembaga pemerintah mana pun.

Berikut adalah ringkasan data statistik yang diperoleh dari hasil penelitian mengenai prevalensi kekerasan terhadap bayi dan identitas pelakunya:

Kategori Data Persentase / Jumlah
Jumlah Laporan Kasus yang Diteliti 220.000 Laporan
Total Studi yang Ditinjau 20 Penelitian
Prevalensi Bayi Mengalami Kekerasan Fisik Dunia 1 dari 20 Bayi (5%)
Persentase Pengasuh yang Mengaku Agresif 4,8 Persen
Persentase Orang Tua yang Berperilaku Agresif 4 - 5 Persen

Secara keseluruhan, riset ini memperingatkan bahwa tingkat kekerasan fisik terhadap bayi masih berada pada angka yang mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia. Diperlukan kerja sama lintas sektor antara penyedia layanan kesehatan, pemerintah, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi bayi.

Artikel terkait

Rekomendasi