Pemerintah Indonesia saat ini sedang secara serius menggodok program pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas mencapai 100 gigawatt. Presiden Prabowo Subianto secara khusus meminta agar realisasi proyek skala besar ini segera dipercepat guna mendukung ketahanan energi nasional.
Dalam menjalankan agenda strategis tersebut, pemerintah tidak bergerak sendiri melainkan turut menggandeng sejumlah ahli dari berbagai perguruan tinggi terkemuka. Keterlibatan akademisi ini dikonfirmasi oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, setelah melakukan pertemuan dengan Presiden di Istana Kepresidenan Jakarta pada Selasa, 21 April.
Brian Yuliarto menjelaskan bahwa Presiden menekankan percepatan implementasi PLTS bertujuan utama untuk menggantikan penggunaan pembangkit listrik yang masih berbasis bahan bakar diesel. Selain itu, pemerintah menetapkan target ambisius untuk menambah kapasitas energi terbarukan melalui tenaga surya secara signifikan pada periode tahun ini.
Target jangka pendek mencakup pengurangan penggunaan diesel sebesar 10 gigawatt yang kemudian akan diimbangi dengan penambahan daya dari sumber lain sekitar 7 gigawatt. Berdasarkan siaran ulang di kanal YouTube Sekretariat Presiden, total penambahan dari energi matahari yang diincar untuk segera dipasang mencapai angka 17 gigawatt.
Angka target tersebut bukan tanpa dasar, melainkan hasil perhitungan matang yang dilakukan secara kolaboratif antara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan PT PLN. Selain itu, lembaga Danantara beserta para pakar dari institusi pendidikan tinggi juga turut serta dalam merumuskan teknis kapasitas instalasi sebesar 17 gigawatt tersebut.
| Target Penambahan / Pengurangan Energi | Kapasitas (Gigawatt) |
|---|---|
| Target Pengurangan Pembangkit Diesel Tahun Ini | 10 GW |
| Target Penambahan Daya Baru Tahun Ini | 7 GW |
| Total Target Instalasi PLTS Jangka Pendek | 17 GW |
| Target Total Pembangunan PLTS Era Prabowo | 100 GW |
Mengenai detail pelaksanaan teknis di lapangan serta penentuan lokasi spesifik pembangunan, wewenang sepenuhnya akan diserahkan kepada pihak PT PLN. Brian menegaskan bahwa PLN memegang peranan krusial sebagai implementator utama yang akan mengeksekusi program transisi energi hijau tersebut secara menyeluruh.
Langkah Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan total 100 gigawatt PLTS dipandang sebagai upaya strategis demi memangkas ketergantungan Indonesia pada bahan bakar fosil yang semakin terbatas. Pemerintah bahkan memiliki visi besar untuk mencapai implementasi listrik dari sumber energi terbarukan hingga 100 persen dalam kurun waktu sepuluh tahun mendatang.