Papua Jadi Satu-satunya Habitat Subspesies Baru Buah Bisbul yang Baru Ditemukan

Papua Jadi Satu-satunya Habitat Subspesies Baru Buah Bisbul yang Baru Ditemukan
Foto: Ilustrasi Papua Jadi Satu-satunya Habitat Subspesies Baru Buah Bisbul yang Baru Ditemukan.

Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama tim kolaborator sukses mengidentifikasi subspesies baru dari tanaman Diospyros blancoi atau yang lebih populer dikenal sebagai buah bisbul. Temuan ini didasarkan pada populasi yang memiliki karakteristik unik dan teridentifikasi berasal dari wilayah Papua.

Studi mendalam mengenai subspesies baru ini dipimpin oleh Irvan Fadli Wanda, seorang peneliti di Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN. Bersama timnya, ia melakukan analisis komprehensif untuk menelaah variasi morfologi serta hubungan kekerabatan genetik pada tanaman buah tropis tersebut.

Proses identifikasi yang ketat ini mencakup analisis detail terhadap total 93 karakter morfologi yang terdiri dari 53 karakter vegetatif serta 40 karakter generatif. Tidak hanya terpaku pada pemeriksaan fisik, tim peneliti juga menerapkan pendekatan molekuler melalui penggunaan penanda DNA spesifik, yakni gen matK dan psbA-trnH.

Irvan menjelaskan bahwa terdapat temuan menarik berupa variasi signifikan pada 32 karakter, terutama yang berkaitan erat dengan bagian buah dan biji tanaman tersebut. Hal ini mengindikasikan adanya ciri khas yang sangat kuat sehingga mampu membedakan antara populasi di Papua dengan populasi serupa di Filipina.

Karakteristik Pembeda Populasi Filipina Subspesies Baru Papua
Jumlah Biji per Buah Lebih sedikit 5-10 biji per buah
Bentuk Biji Standar Menyerupai irisan
Kepadatan Rambut Buah Tinggi Lebih rendah

Melalui hasil komparasi tersebut, diketahui bahwa populasi asal Papua membentuk kelompok genetik tersendiri yang berbeda dari kelompok populasi yang berada di Filipina. Perbedaan paling menonjol terlihat pada kapasitas jumlah biji yang lebih banyak serta tingkat kepadatan rambut pada permukaan kulit buah yang cenderung lebih tipis.

Menurut Irvan sebagaimana dikutip dari laman resmi BRIN, kombinasi antara data morfologi dan data molekuler memberikan bukti ilmiah yang sangat solid mengenai jalur evolusi berbeda pada populasi Papua. Atas dasar bukti tersebut, populasi ini secara resmi dinyatakan layak untuk ditetapkan sebagai sebuah subspesies baru dalam dunia botani.

Keberadaan yang Belum Pernah Tercatat Resmi di Papua

Aspek menarik lainnya dalam kajian ini adalah penggunaan spesimen koleksi Kebun Raya Bogor sebagai bahan utama penelitian yang dilakukan oleh Irvan dan timnya. Fakta ini semakin mempertegas peran strategis kebun raya sebagai pusat konservasi tumbuhan sekaligus menjadi gudang data ilmiah bagi riset biodiversitas di Indonesia.

Secara umum, bisbul merupakan komoditas buah tropis dengan nilai ekonomi tinggi yang seringkali dimanfaatkan dalam praktik pengobatan tradisional oleh masyarakat luas. Meskipun spesies ini lazim ditemukan di Filipina dan beberapa titik di Asia Tenggara, kehadirannya belum pernah terdokumentasi secara resmi di wilayah Papua sebelumnya.

Temuan subspesies baru ini sekaligus memberikan pembaruan pada peta persebaran Diospyros blancoi di kawasan Malesia yang mencakup Indonesia, Filipina, hingga Papua Nugini. Penemuan di Pulau Papua ini menjadi tonggak sejarah baru dalam catatan biogeografi dan provinsi floristik di wilayah tersebut.

Dalam rangkaian risetnya, tim peneliti juga menemukan fakta bahwa variasi morfologi pada tanaman bisbul sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan seperti intensitas cahaya matahari. Di sisi lain, faktor genetika berperan penting dalam menjaga stabilitas karakter reproduktif tanaman agar tetap konsisten dari generasi ke generasi.

Identifikasi subspesies baru ini membuktikan betapa krusialnya integrasi antara metode morfologi konvensional dan teknik molekuler modern dalam disiplin ilmu taksonomi. Diharapkan hasil penelitian ini mampu memperkuat upaya pelestarian serta pemanfaatan keanekaragaman hayati Indonesia dengan cara yang lebih berkelanjutan.

BRIN menyatakan komitmennya untuk terus memfasilitasi riset biosistematika dan eksplorasi biodiversitas secara berkelanjutan di masa yang akan datang. Upaya nyata ini bertujuan untuk menyingkap potensi sumber daya hayati yang masih tersembunyi serta memperkokoh fondasi kebijakan konservasi nasional.

Perjalanan Riset Sejak 2022 Hingga Publikasi 2026

Subspesies yang diberi nama Diospyros blancoi subsp. papuensis ini telah melewati proses penelitian yang sangat panjang dan memakan waktu bertahun-tahun. Pengambilan sampel spesimen dan pengkajian awal secara intensif terhadap tanaman ini sebenarnya sudah dimulai sejak bulan Desember tahun 2022 lalu.

Keberadaan subspesies ini memberikan dimensi baru dalam literatur mengenai persebaran spesies bisbul di wilayah Malesia, khususnya di daratan Pulau Papua. Seluruh rangkaian tahapan ilmiah yang diperlukan diselesaikan hingga Desember 2024 sebelum akhirnya berhasil dipublikasikan secara internasional pada tahun 2026.

Penelitian yang dipimpin oleh Irvan ini merupakan buah dari kolaborasi lintas instansi yang melibatkan Universitas Nusa Bangsa, Universitas Diponegoro, hingga IPB University. Hasil studi kolektif tersebut menyimpulkan bahwa karakteristik unik pada biji dan rambut buah menjadi pembeda utama dari populasi yang ada di Filipina.

Kondisi morfologi tanaman yang sangat dinamis akibat pengaruh habitat serta cahaya matahari menjadikannya subjek yang sangat menarik untuk terus dipelajari. Pengumuman publik mengenai kehadiran subspesies ini dipandang sebagai langkah awal yang vital demi mendukung pemahaman mendalam tentang kekayaan hayati tanah air.

Seluruh detail penelitian ini telah resmi diterbitkan dalam Egyptian Journal of Botany Volume 66 yang dirilis pada bulan April tahun 2026. Artikel ilmiah tersebut dipublikasikan dengan judul "Discovery of a New Subspecies of Diospyros blancoi A. DC. through Phenetic and Phylogenetic Analyses".

Artikel terkait

Rekomendasi