Data dari satelit altimetri menunjukkan adanya penurunan permukaan air di Danau Toba sekitar 1,6 meter selama periode Juni 2025 hingga Maret 2026. Prof Jonson Lumban Gaol selaku Ahli Penginderaan Jauh Satelit dari IPB University memperingatkan bahwa penyusutan ini bisa menyentuh angka 2 meter saat puncak musim kemarau tiba.
Kondisi ini dianggap sebagai ancaman serius bagi sektor perikanan budi daya yang beroperasi di wilayah perairan tersebut. Penurunan volume air danau yang signifikan dikhawatirkan akan memicu kembali insiden kematian ikan secara massal di area keramba.
Potensi Kematian Ikan secara Massal
Prof Jonson menjelaskan bahwa kombinasi antara penurunan muka air dan musim kemarau yang dimulai pada April ini dapat memperparah penyusutan volume air. Fenomena ini berisiko menyebabkan kematian massal ikan pada Keramba Jaring Apung (KJA) akibat kondisi lingkungan yang memburuk.
Sejarah mencatat bahwa peristiwa serupa pernah melanda Danau Toba pada tahun 2016, di mana ribuan ton ikan mati akibat air surut hingga 2 meter. Meskipun dengan skala yang lebih kecil, insiden mematikan tersebut dilaporkan terus berulang kembali pada tahun 2018, 2020, hingga 2023.
Dampak Penurunan Muka Air terhadap Ekosistem
| Periode Waktu | Catatan Penurunan Muka Air / Dampak |
|---|---|
| Juni 2025 - Maret 2026 | Penurunan permukaan air terpantau sebesar 1,6 meter. |
| Tahun 2016 | Penyusutan air mencapai 2 meter dan ribuan ton ikan mati. |
| Estimasi Musim Kemarau | Potensi penurunan muka air diprediksi mencapai 2 meter. |
| 2018, 2020, 2023 | Terjadi kematian massal ikan dengan skala yang lebih kecil. |
Penurunan permukaan air sebenarnya bukanlah penyebab langsung dari kematian ikan, melainkan menjadi faktor pemicu utama saat terjadi cuaca ekstrem. Angin kencang pada perairan yang dangkal akan mengaduk sedimen limbah organik dari dasar danau hingga terangkat ke permukaan air.
Sedimen yang naik tersebut kemudian menyumbat insang ikan sehingga mengganggu sistem pernapasan mereka secara langsung. Selain itu, massa air dari lapisan bawah yang miskin oksigen akan naik ke atas dan menyebabkan kadar oksigen terlarut menurun drastis.
Penumpukan limbah organik dan rumah tangga di dasar danau juga menjadi pemicu lain yang memperburuk kondisi kualitas air. Saat cadangan oksigen habis, proses penguraian limbah akan berlangsung secara anaerobik yang menghasilkan berbagai gas berbahaya bagi kehidupan akuatik.
Gas beracun seperti hidrogen sulfida dapat merusak pernapasan ikan, sementara gas metana akan menurunkan kualitas air secara keseluruhan. Perpaduan antara rendahnya oksigen, tingginya gas beracun, dan kekeruhan air menjadi penyebab utama kematian massal ikan di KJA.
Langkah Antisipasi bagi Nelayan
Prof Jonson memberikan saran agar para nelayan di kawasan Danau Toba meningkatkan kewaspadaan terhadap tanda-tanda perubahan cuaca yang ekstrem. Indikator yang perlu diwaspadai antara lain adalah peningkatan kecepatan angin serta perubahan warna air yang mulai terlihat keruh.
Jika kondisi air sudah menunjukkan tanda-tanda bahaya, para pemilik keramba jaring apung sangat disarankan untuk segera memindahkan lokasi budi daya mereka. Langkah preventif ini sangat penting untuk meminimalkan kerugian ekonomi akibat kematian ikan yang tiba-tiba.
Pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan juga diminta untuk bertindak lebih proaktif dalam menangani krisis air di danau vulkanik ini. Diperlukan sebuah sistem peringatan dini yang akurat dan cepat agar informasi mengenai kondisi air bisa segera sampai kepada masyarakat luas.