Semangat Annas Solihin dalam menyelesaikan pendidikan mengantarkannya meraih predikat sebagai salah satu lulusan terbaik di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada Wisuda Periode 118 yang berlangsung di awal Februari 2026. Mengambil program di Fakultas Ilmu Pendidikan, Annas berhasil meraih gelar Magister dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna, yaitu 4,00.
Selama menempuh pendidikan S1 di kampus yang sama, Annas pernah menghadapi kesulitan ekonomi. Alih-alih memilih untuk cuti kuliah, ia mengambil pekerjaan sebagai pembina pramuka di tiga sekolah untuk mengumpulkan dana demi melanjutkan studinya ke jenjang S2.
Annas percaya bahwa setiap kesulitan adalah peluang untuk bertindak lebih kreatif. "Jika saat itu saya menyerah, mungkin ceritanya akan berbeda. Saya selalu meyakini bahwa kesulitan hanya mengajak kita berpikir kreatif untuk menemukan solusi," ujarnya, sebagaimana dikutip dari situs Unesa pada Jumat (20/3/2026).
Begitu memasuki jenjang S2, Annas langsung meluncurkan riset tesis pada semester pertama. Ia berhasil mendapatkan dukungan pendanaan dari DPPM BIMA Kemendikti dan karya ilmiahnya bahkan berhasil dipublikasikan di jurnal Scopus Q1 pada bulan Juni 2025.
Dengan keberhasilan tersebut, Annas memiliki hak istimewa untuk lulus tanpa perlu mengikuti sidang. Namun, ia memilih untuk mengikuti proses akademik yang dianggapnya penting, "Bagi saya, proses akademik bukan sekadar soal cepat, tetapi juga tentang kelengkapan dan kesesuaian," ungkap pria asal Sampang, Madura.
Universitas Negeri Surabaya (Unesa) meloloskan 6.262 calon mahasiswa baru melalui jalur seleksi nasional berdasarkan prestasi (SNBP) pada Rabu (19/3/2025). Hingga saat ini, Annas telah menerbitkan lebih dari 23 artikel di jurnal nasional dan internasional.
Selain itu, ia juga memiliki 142 Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Dengan h-index 10 dan total skor Sinta sebesar 88, nama Annas Solihin mulai diperhitungkan dalam dunia riset pendidikan matematika di Indonesia.
Inovasi utama yang dihasilkan Annas adalah pengembangan media pembelajaran berbasis etnopedagogi. Ia menciptakan metode pembelajaran yang mengintegrasikan budaya lokal Madura, seperti konsep Karapan Sapi, ke dalam pengajaran matematika agar lebih dekat dengan kehidupan siswa sekolah dasar.
Saat ini, Annas tengah menempuh pendidikan S2 dalam program fast track meskipun ijazah S2-nya belum diterima. KOMPAS.com berkomitmen untuk menyajikan informasi yang jernih, terpercaya, dan berimbang.
Jangan lewatkan kesempatan untuk mendukung jurnalisme yang transparan dan nikmati kenyamanan membaca tanpa iklan dengan bergabung dalam chương trình Membership KOMPAS.com Plus.