Meskipun hutan sering kali dijuluki sebagai paru-paru dunia, faktanya mayoritas oksigen yang dihirup oleh manusia di Bumi justru berasal dari lautan. Oksigen tersebut dihasilkan oleh fitoplankton, yaitu sejenis alga mikroskopis yang hidup terapung di perairan dan memiliki kemampuan melakukan fotosintesis layaknya tumbuhan di daratan.
Fitoplankton tidak hanya memegang peran vital sebagai produsen utama dalam jaringan rantai makanan, tetapi juga menyumbang porsi oksigen yang sangat besar bagi atmosfer global. Menurut ahli oseanografi dan ekologi asal Amerika, Paul G. Falkowski, setiap tarikan napas manusia mengandung oksigen yang dilepaskan ke udara oleh aktivitas fitoplankton di laut.
Proses Alga Laut dalam Menghasilkan Oksigen
Melalui proses fotosintesis, fitoplankton menyerap karbon dioksida dari lingkungan dan melepaskan oksigen sebagai produk sampingan yang bermanfaat bagi kehidupan. Namun, kemampuan organisme mikroskopis ini dalam memproduksi oksigen sangat bergantung pada ketersediaan zat besi sebagai mikronutrien esensial bagi mereka.
Zat besi tersebut biasanya masuk ke wilayah perairan melalui sebaran debu mineral yang terbawa dari daratan, area gurun yang kering, serta melalui proses lelehan es. Sebuah studi terbaru yang dirilis dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences pada Juli 2025 mengungkapkan betapa krusialnya peran zat besi ini di laut lepas.
Tim peneliti dari Rutgers University melakukan pengamatan langsung di lapangan guna memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai fenomena yang selama ini lebih banyak diteliti di laboratorium. Falkowski menjelaskan bahwa hasil penelitian tersebut menegaskan posisi zat besi sebagai faktor pembatas utama bagi kemampuan fitoplankton dalam memproduksi oksigen di area lautan yang luas.
Apabila pasokan zat besi tidak mencukupi kebutuhan, maka proses fotosintesis pada fitoplankton akan mengalami perlambatan yang signifikan atau bahkan berhenti sepenuhnya. Kondisi ini menyebabkan pertumbuhan fitoplankton terhambat, penyerapan sinar matahari berkurang, hingga menurunnya kapasitas mereka dalam menyerap karbon dioksida dari atmosfer Bumi.
Dampak Perubahan Iklim Terhadap Ekosistem Laut
Falkowski memberikan peringatan mengenai adanya bukti kuat bahwa perubahan iklim saat ini mulai mengubah pola sirkulasi laut dan memengaruhi distribusi zat besi ke perairan. Walaupun fenomena ini tidak akan langsung menyebabkan manusia kehabisan oksigen, dampaknya diprediksi akan sangat serius bagi keberlangsungan ekosistem di lautan.
Fitoplankton merupakan fondasi makanan bagi krill, yakni udang mikroskopis yang menjadi sumber nutrisi utama bagi berbagai fauna di Samudra Selatan seperti penguin, anjing laut, dan paus. Penurunan kadar zat besi yang berujung pada berkurangnya jumlah makanan bagi predator tingkat atas dipastikan akan memicu penurunan populasi hewan-hewan tersebut secara signifikan.
Jika tren penurunan zat besi ini terus berlanjut dan populasi fitoplankton merosot, maka stabilitas seluruh rantai makanan di laut terancam mengalami pelemahan yang parah. Dalam perspektif jangka panjang, situasi tersebut berpotensi memicu kepunahan berbagai spesies laut serta mengganggu keseimbangan ekosistem global yang saling berkaitan.