Fenomena bed rotting yang semakin dikenal di kalangan remaja, khususnya generasi Z, mendapatkan perhatian dari Dr. Yulina Eva Riany, seorang pakar Pendidikan Anak dan Remaja di IPB University. Praktik ini didefinisikan sebagai kebiasaan menghabiskan waktu lama di tempat tidur sambil menggunakan media sosial atau menonton video, dan sering kali dianggap sebagai kemalasan.
Yulina menegaskan bahwa perilaku ini memiliki dimensi psikologis yang lebih rumit. Dalam pandangannya, dari sisi psikologi perkembangan, bed rotting dapat mencerminkan kondisi emosional dan mental yang dialami remaja saat ini.
Menurutnya, fenomena ini tidak bisa dianggap sepele dan dijustifikasi sebagai kemalasan semata. "Dari perspektif psikologi perkembangan, perilaku ini jauh lebih kompleks," imbuhnya sesuai kutipan dari laman resmi IPB University.
Yulina mengungkapkan bahwa bed rotting berada di antara praktik perawatan diri dan perilaku maladaptif. Di fase remaja, individu sedang berada dalam pencarian identitas di dunia nyata dan dunia digital, dan kebiasaan ini bisa juga menjadi sarana bagi mereka untuk beristirahat dan menjelajahi diri.
"Bed rotting tidak selalu diartikan sebagai perilaku pasif. Dalam beberapa situasi, hal itu bisa menjadi tempat beristirahat sekaligus sebagai eksplorasi bagi remaja," jelasnya. Namun, ia juga menekankan bahwa perilaku ini dapat menandakan adanya masalah kesehatan mental.
Yulina mencatat bahwa jika bed rotting dilakukan secara berlebihan dan tidak disadari, hal ini dapat berkaitan dengan masalah seperti kelelahan emosional, kecemasan berlebih, hingga depresi. Beberapa gejala yang perlu diperhatikan antara lain kehilangan minat, gangguan tidur, penarikan diri dari lingkungan sosial, dan penurunan prestasi akademik.
"Bed rotting bisa diartikan sebagai tombol jeda psikologis, tetapi juga mungkin menjadi bentuk penghindaran dari tekanan," tambahnya.
Untuk mencegah dampak negatif dari bed rotting, Yulina menekankan pentingnya membangun pola istirahat yang sehat. Istirahat yang baik adalah yang dilakukan dengan kesadaran dan adanya batasan waktu, sehingga benar-benar dapat memulihkan energi.
Ia menyarankan agar remaja dan generasi Z menetapkan waktu istirahat yang jelas, membatasi penggunaan gadget di tempat tidur, dan memilih aktivitas ringan seperti berjalan santai atau melakukan peregangan. "Perawatan diri yang baik bukan tergantung berapa lama kita beristirahat, melainkan apakah kita mempertahankan kontrol atas pilihan kita," tegas Yulina.